Halaman

Tampilkan postingan dengan label integritas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label integritas. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 April 2011

Hadiah Tak Terduga

Bulan Februari 2011 lalu, saya menerima telpon seorang lelaki yang mengaku petugas Telkom. Setelah mengkonfirmasi nomor telepon dan nama pelanggan, ia lalu menyampaikan pada saya,

"Ibu. Ibu mendapat hadiah dari PT. Telkom, yaitu ..... menit telepon lokal dan ..... telepon interlokal.
Untuk keterangan lebih lanjut, ibu dapat menghubungi 147."

(Saya sudah lupa berapa angka yang ia sebutkan)

"Terima kasih"

Saya tidak menanggapi lebih lanjut. Karena kami jarang menggunakan telepon rumah, selain untuk menerima panggilan dan menelepon nomor-nomor lokal. Jadi tidak terlalu excited lah.
Suami sempat berkomentar, ah jangan-jangan bohong.
Saya pikir, sekalipun bohong kan ga masalah. Kalo nggak dipakai kan ga ngaruh, sih?

Bulan Maret 2011, suami saya lapor, "Tagihan telpon kok banyak ya? Biasanya ga sampai 40 ribu, ni kok sampai Rp 71.500,- ?"
"Iya, saya banyak telepon interlokal kali..."
"Ah, biasanya juga ada telpon interlokal, tapi ga sampe segini tagihannya.." tampiknya

Hmm... benar juga, saya pikir pemakaian saya hampir sama seperti sebelumnya. Akhirnya saya cek rincian tagihan lewat telepon 109. Ternyata memang ada tambahan Rp 65.000,- untuk layanan non jastel.

17 Maret 2011 saya tanyakan ke 147. CS yang menerima menyampaikan bahwa non jastel yang dimaksud adalah fitur tambahan layanan telepon rumah, berupa paket telepon lokal dan interlokal dengan tarif Rp65.000,-/bulan.

Walah.... saya kan tidak pernah meminta layanan tersebut, mengapa bisa mendadak ada dan muncul tagihan?

Spontan saya minta layanan itu dicabut.

"Nggak sayang, bu?" tanya mbak CS.
"Nggak, mbak."

"Kalau boleh tahu, alasannya apa?"
"Tagihan saya jadi besar, mbak. Dan saya tidak pernah meminta atau mendaftar untuk layanan ini."

Lalu saya ceritakan tentang telepon yang saya terima, "Ini sebenarnya kan penipuan, mbak. Tolong teman-teman marketingnya diberitahu, jangan begini dong caranya." ujar saya setengah jengkel, "Kalau sampai keluar di koran, kan nggak baik untuk Telkom sendiri"

"Baik, bu, akan kami sampaikan. Mungkin ibu tertarik dengan paket telpon hp, cuma...."
"Terima kasih, mbak. Tapi saya tidak perlu. Jadi bagaimana saya bisa tahu kalau fitur ini sudah dicabut atau belum?"

"Ibu silakan konfirmasi ke 147 tanggal 1 bulan depan"

Jumat, 1 April 2011, suami saya mengkonfirmasi ulang, ternyata fitur itu belum dicabut. CS menyampaikan bahwa pencabutan masih dalam proses, mungkin perlu beberapa hari.

Senin, 4 April 2011, saya telpon ulang dan memperoleh jawaban yang sama. CS tidak dapat memastikan kapan fitur tersebut dicabut.
"Lha, kalo sampai akhir bulan, masih belum dicabut, jadi saya harus bayar lagi layanan yang tidak saya pesan itu?" protes saya pada si mbak CS.
"Untuk bulan April, yang ditagihkan adalah pemakaian bulan Maret, bu. Kalau ibu merasa keberatan dengan tagihan itu nanti, ibu dapat mengajukan ke Telkom" jawab CS tersebut.

Jadi, saya menyimpulkan mungkin saya harus komplain untuk 2 hal, pencabutan fitur dan tagihan.
Pertanyaannya, komplain saya akan dilayani kapan?

"Masih dalam proses, bu... Mungkin beberapa hari lagi...", begitu saya membayangkan jawaban yang akan saya terima seandainya saya mengajukan komplain kelak....

Sungguh 'hadiah' yang tak terduga...
Makasih, ya

Antara CS dan Tukang Serpis....

Ada hubungan apa, ya?

Lha, ya memang itu pertanyaan saya.

Sebagai konsumen yang awam, saya berharap ketika saya memasukkan pengaduan kepada Customer Service (CS), maka masalah yang saya adukan akan segera terselesaikan. Namun dari pengalaman, ternyata CS di beberapa perusahaan hanya bertugas menerima pengaduan saja. Mereka tidak dapat memberikan kepastian kapankah masalah kita akan diselesaikan. Akhirnya ketika telpon berulang kali, jawaban yang diberikan sama dengan jawaban ketika telpon pertama kali.

"Iya, bu... sedang dalam proses, dalam beberapa hari akan kami selesaikan"

Padahal beberapa hari yang lalu juga begitu jawabannya. Ya, emang script standarnya begitu kali ya?

Sekarang apa gunanya melaporkan pengaduan gangguan dsb, kalo cuma numpuk di CS?
Sebenarnya pasti CS sudah meneruskan kasus kita ke bagian yang berwenang membereskannya (ini dari sudut pandang berprasangka baik, hehe...). Hanya saja sepertinya tidak ada data mengenai perkembangan kasus yang bisa diakses oleh mereka. Atau tidak ada standar prosedur yang memastikan bahwa per kasus akan ditangani dalam waktu X hari, misalnya. Sehingga ketika sebagai konsumen saya bertanya, ini pengaduan sudah dari tgl sekian, trus tgl sekian, dan sekarang telpon lagi... kok belum beres? Kapan beresnya? Nah, lho... cuma bisa bilang tunggu, ya bu....

Hiii... kalo yang ngomong begitu anak saya, udah saya cubit kali....Hehe, maaf, ya sayang...

Jadi CS ma Tukang serpis ada hubungan apa enggak, ya? Hehe... mungkin teman-teman yang sekarang atau dulu pernah berprofesi  sebagai CS atau tukang servis ini bisa menjawab pertanyaan saya. Geregetan banget, nih. Katanya Comitted tu yu... Komit sama tagihannya saja kah?

Masa sih, kalau mau dilayani harus lewat Surat Pembaca atau FB dulu?
Ah, Indonesia bangeeeut.... kapan majunya?

Jumat, 11 September 2009

Janji, janji... tinggal janji...

Surabaya, 11 September 2009
06.00 WIB
@home, kalidami sunyi lepas sahur dan shubuh.

Jengkel, rekasi pertama. Selanjutnya mau marah, tapi ga tega. Setelah berpikir lagi, merasa dipermainkan dan tidak dihormati. Jadi pengen marah-marah lagi. Tapi merasa tak ada gunanya. Apa kemarahanku penting buat mereka yang tidak menganggap penting janji dengan diriku?
Lalu muncul pertanyaan, bagaimana bisa begini? Apa merasa tak punya janji? Lha, wong kita sudah sepakat untuk ketemu tanggal 11 jam 11. Apa kesepakatan itu bukan janji? Kesepakatan, janji, kontrak, itu semua kan sinonim. Lalu apa yang terjadi?
Lupa? Mungkin iya, lupa itu manusiawi. Tapi manusia yang terlalu sering lupa menunjukkan ada sesuatu yang tak beres dengan dirinya. Lupa jadi alasan yang diulang-ulang. Bahkan tak bisa mengingat apa yang dilakukannya kemarin. Kesimpulannya, kalau lupa sudah menjadi bagian hidupmu, kamu harus periksakan diri ke ahli kejiwaan. Apa itu masalahnya?
Haaah… jengkel. Merasa tidak punya cukup kesabaran dan pengendalian diri untuk mengungkapkan kejengkelan secara langsung. Kuatirnya ketika bicara langsung, aku kehilangan poin yang ingin disampaikan. Kuatirnya emosi akan mengalahkan logika. Karena dalam kemarahan setan akan mendorong kita melakukan lebih dari yang pantas. Apa yang harus aku lakukan?
Marahlah kalau itu membuat keadaan jadi lebih baik. Tapi harus marah sama siapa? Bahkan untuk memarahi aku harus membuat janji ketemu mereka, trus kalau diingkari lagi? Duh…. susahnya. Lha kapan dong marahnya?
Bicara langsung memang kelemahanku, tulisan lebih menjadi gayaku menyampaikan maksud. Dibaca ga ya? Cuma Tuhan yang tahu.

Adik-adikku… Rasulullah SAW sangat tinggi memandang sebuah janji. Janji adalah hutang, demikian sabda beliau. Hutang yang harus dilunasi dan tidak akan diputihkan bahkan ketika maut telah mengambil kemampuan kita memenuhi janji itu. Sehingga setiap acara pemakaman secara Islam, akan selalu ditanyakan apakah almarhum atau almarhumah memiliki janji atau hutang yang belum dipenuhi, dan ahli warisnya wajib mengambil alih janji tersebut sehingga yang bersangkutan tidak akan dituntut di Hari Perhitungan kelak.

Memenuhi janji bahkan menjadi pembeda antara yang muslim dan yang munafik. Tapi kita sering lupa akan hal ini ketika kita membatalkan janji dengan mudahnya. Dan dengan demikian masuklah kita ke dalam golongan yang dimurkai dan dipandang rendah.

Pengelolaan waktu yang baik, organizer / agenda entah dalam bentuk buku atau elektronik, reminder di telepon seluler, punya dan lihat kalender, semua itu hal-hal yang akan dengan mudah menghindarkan kita dari kemurkaan Allah dan orang-orang di sekitar kita. Kuncinya hanyalah rajin mencatat dan membaca catatan janji kita. Kemudian prioritaskan janji yang lebih dulu dibuat. Jangan karena orang yang satu lebih galak dari yang lain lalu didahulukan, yang lain dibatalkan. Janganlah kedudukan seseorang atau kedekatannya dengan kita, menjadi pertimbangan dalam memprioritaskan janji. Dalam berjanji, mana yang lebih dulu itulah yang prioritas. Orang-orang yang juga menghargai sebuah janji tidak akan keberatan jika kita memprioritaskan janji yang lebih dulu dibuat, karena mereka juga melakukan hal yang sama.

Manusia dinilai dari kesesuaian kata dan tindakannya. Semakin sesuai, semakin tinggi nilainya. Maka semakin ia dihargai, dihormati dan dipercaya. Stephen Covey menyebutnya integritas. Integritas tidak didapat dengan mudah, ia dibangun dengan susah payah dalam waktu yang lama. Ironisnya integritas bisa hilang dengan mudah, semudah lidah kita mengucapkan pembatalan janji.

Hidup itu penuh pilihan yang harus diambil, hanya manusia sering tidak berpikir ketika memilih melakukan sesuatu. Adalah akumulasi dari pilihan hidup kita menjadikan diri kita sebagai apa adanya saatnya ini. Masih ada waktu selama nafas masih berhembus, pilihan apa yang akan kita ambil selanjutnya. Pilihan yang benar, atau yang mudah? Hidup dengan integritas, atau lenyap tanpa makna?

Saat ini ada kesedihan yang menyeruak, menyerukan harapan yang entah akan terwujud atau tidak: demi kebaikan, pilihlah yang benar, adikku….