1 finished projects!
Hehe... dengan kemauan yang kuat melebihi keinginan untuk nge-net tanpa arti, akhirnya terwujudkan 1 proyek prakarya kita. Jreeeng !!!!
Start tadi pagi, selesai sekitar makan siang. Harusnya bisa lebih cepat, tapi berhubung sayanya newbie dalam hal jahit-menjahit dengan mesin jahit, jadilah prosesnya bertambah lama karena berulang kali membongkar jahitan yang gagal.
Ini hasilnya, diperagakan oleh model :
Ini gaya lain sang model
Bikinnya gampang banget.
Bahan : Sarung bantal, baru atau bekas boleh.
Beli baru di Pasar Karang Menjangan cuma 5 ribu sebuah. Bahannya yah biasa aja. Tapi motifnya lumayan bagus kok.
Trus sarung bantal dibagi dua secara diagonal.
Jadilah 2 buah segitiga siku-siku, satukan sisi lebarnya di bagian bawah. Sisipkan satu segitiga di dalam segitiga lainnya, lalu jahit.
Jadinya akan seperti ini
Untuk talinya cuma diikat saja dengan simpul mati.
Sarung bantal yang saya gunakan agak pendek, sehingga sisa untuk talinya juga pendek.
Kalo untuk proyek saya inimasih akan saya tambahkan aplikasi inisial huruf dari perca, soalnya untuk kado ponakan.
Berdoa aja anaknya ga ngeh dengan jahitan yang amburadul (amiiin).
Hmm, kalo pake sarung guling jadinya gimana ya...?
Hehe, ide tas ini saya dapatkan dari situsnya martha stewart, coba aja buka.
Banyak ide keren lho.
Bisa berhemat dengan membuat sendiri berbagai asesoris rumah.
Doakan proyek-proyek saya lainnya juga bisa sukses diselesaikan ya...
Seorang ibu satu anak coba-coba memasuki dunia blog, walaupun serba tak tahu, tapi ia terus melangkah penuh kewaspadaan. Halo, dunia... salam hangatku untukmu.
Minggu, 20 Juni 2010
Jumat, 04 Juni 2010
Hati-hati, Penipuan via Telepon
Awalnya si penipu menelepon ke telepon seluler seseorang, katakanlah Bapak Budi. Dengan mengemukakan alasan yang bisa diterima si pemilik telepon seluler, maka si pemilik HP akan mematikan pesawat teleponnya. Kemudian si Penipu menelepon ke rumah Pak Budi, mengabarkan pada Bu Budi bahwa Pak Budi mengalami kecelakaan sehingga dalam kondisi kritis. Bu Budi diminta segera mentransfer sejumlah uang untuk biaya operasi dan perawatan.
Pak Budi memang sedang berada di luar kota. Bu Budi yang panik berusaha menghubungi suaminya namun tak bisa. Tentu saja, karena HP sang suami mati atas permintaan penipu.
Dalam sebuah kasus, penipu bahkan berhasil membuat satu keluarga mulai bapak, ibu, dan anak-anak mereka mematikan HP, sehingga pihak keluarga yang dihubungi penipu kebingungan dan percaya pada tipuannya.
Seperti yang dikatakan Bang Napi, memang kita harus selalu ... "Waspada, Waspadalaaahhh...!"
Kuncinya adalah tetap tenang, walau seburuk apa pun kabar yang kita terima.
Sehingga kita tetap dapat berpikir logis dan rasional.
Coba mengingat jadwal & aktivitas anggota keluarga yang dikabarkan tadi.
Barangkali kita bisa menghubungi kantor, hotel, anggota keluarga atau teman-teman yang kira-kira bersama dengannya.
Jika gagal kita bisa menelepon pihak rumah sakit dimana suami/anggota keluarga dikabarkan menjalani perawatan.
Kalau memang nasib lagi apes dan akhirnya kena tipu juga....
Walau memalukan, kita wajib menyebarluaskan modus operandi para penipu ini agar tak lebih banyak lagi yang tertipu macam kita.
Omong-omong, walaupun saya menyebarluaskannya, bukan berarti saya tertipu, lho...
Ini kejadian yang dialami teman saya, yang alhamdulillah gagal ditipu.
Tapi sayangnya ada teman sekantornya yang sudah jadi korban.
Terakhir, banyak berdoa dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, ya...
Insya Allah kita akan dihindarkan dari niat jahat orang lain.
Amin
Pak Budi memang sedang berada di luar kota. Bu Budi yang panik berusaha menghubungi suaminya namun tak bisa. Tentu saja, karena HP sang suami mati atas permintaan penipu.
Dalam sebuah kasus, penipu bahkan berhasil membuat satu keluarga mulai bapak, ibu, dan anak-anak mereka mematikan HP, sehingga pihak keluarga yang dihubungi penipu kebingungan dan percaya pada tipuannya.
Seperti yang dikatakan Bang Napi, memang kita harus selalu ... "Waspada, Waspadalaaahhh...!"
Kuncinya adalah tetap tenang, walau seburuk apa pun kabar yang kita terima.
Sehingga kita tetap dapat berpikir logis dan rasional.
Coba mengingat jadwal & aktivitas anggota keluarga yang dikabarkan tadi.
Barangkali kita bisa menghubungi kantor, hotel, anggota keluarga atau teman-teman yang kira-kira bersama dengannya.
Jika gagal kita bisa menelepon pihak rumah sakit dimana suami/anggota keluarga dikabarkan menjalani perawatan.
Kalau memang nasib lagi apes dan akhirnya kena tipu juga....
Walau memalukan, kita wajib menyebarluaskan modus operandi para penipu ini agar tak lebih banyak lagi yang tertipu macam kita.
Omong-omong, walaupun saya menyebarluaskannya, bukan berarti saya tertipu, lho...
Ini kejadian yang dialami teman saya, yang alhamdulillah gagal ditipu.
Tapi sayangnya ada teman sekantornya yang sudah jadi korban.
Terakhir, banyak berdoa dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, ya...
Insya Allah kita akan dihindarkan dari niat jahat orang lain.
Amin
Jumat, 21 Mei 2010
Sungguh-sungguh Manusia
Sungguh, manusia itu makhluk yang lemah!
Satu saja diambil oleh Tuhan, kenikmatan yang biasa ia nikmati, maka lihatlah betapa ia terguncang-guncang seakan seluruh dunianya runtuh.
Dan sungguh, manusia itu makhluk yang bodoh!
Ketika satu nikmatnya itu tiada, barulah ia menyadari akan karunia Tuhan yang tak terhitung, yang telah ia sia-siakan.
Apakah ia tak mampu berhitung? Bukan itu sebabnya.
Apakah ia tak mampu melihat? Mungkin bisa, tapi melihat hanya dengan mata, hatinya buta.
Ketika ia disentakkan oleh sakit dan derita, barulah mata hatinya terbuka.
Sungguh, manusia adalah makhluk yang kuat.
Dari kesengsaraan dan kehinaan yang paling rendah, ia mampu menemukan berlian kekuasaan bertindak atas nasibnya dan bangkit dengan gemilang.
Dari kebodohannya ia mampu mencari pelita ilmu yang menerangi jalan menuju kemuliaan.
Ia memiliki keteguhan dan kesabaran untuk terus berupaya hingga ujung jalan keberhasilan.
Sungguh, ia adalah makhluk yang mulia.
Sungguh tak mengherankan karena manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan.
Satu saja diambil oleh Tuhan, kenikmatan yang biasa ia nikmati, maka lihatlah betapa ia terguncang-guncang seakan seluruh dunianya runtuh.
Dan sungguh, manusia itu makhluk yang bodoh!
Ketika satu nikmatnya itu tiada, barulah ia menyadari akan karunia Tuhan yang tak terhitung, yang telah ia sia-siakan.
Apakah ia tak mampu berhitung? Bukan itu sebabnya.
Apakah ia tak mampu melihat? Mungkin bisa, tapi melihat hanya dengan mata, hatinya buta.
Ketika ia disentakkan oleh sakit dan derita, barulah mata hatinya terbuka.
Sungguh, manusia adalah makhluk yang kuat.
Dari kesengsaraan dan kehinaan yang paling rendah, ia mampu menemukan berlian kekuasaan bertindak atas nasibnya dan bangkit dengan gemilang.
Dari kebodohannya ia mampu mencari pelita ilmu yang menerangi jalan menuju kemuliaan.
Ia memiliki keteguhan dan kesabaran untuk terus berupaya hingga ujung jalan keberhasilan.
Sungguh, ia adalah makhluk yang mulia.
Sungguh tak mengherankan karena manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan.
A Good Story
...is like a trap which binds its reader with simple but actualy complicated story, hypnotize you till the end, unable to move your eyes away.
I just looooove good stories !!!!
I just looooove good stories !!!!
just another commoners
heee.... posting terakhir udah 8 bulan yang lalu...!!!
Alamak, betapa produktifnya emak kita yang satu ini. Memalukan!
Jadi sempat berpikir, kira-kira ada berapa jumlah blog yang nasibnya macam blog saya ini, ya?
Sudah dibuat, lalu tak pernah lagi dilihat dan dirawat 'ibu'nya.
Bisa dibuat panti asuhan blog kali, ya....
Well, I guess i'm not more than the other common people, who look with envy eyes at those people with loads of creativity and creates so many in their lives. While in the mean while realising that I can do the same, but i just didn't do it. Or worse, saying that I can do better, if I want to...but in fact never do anything.
Ah, enough blabs, let's really write something
Alamak, betapa produktifnya emak kita yang satu ini. Memalukan!
Jadi sempat berpikir, kira-kira ada berapa jumlah blog yang nasibnya macam blog saya ini, ya?
Sudah dibuat, lalu tak pernah lagi dilihat dan dirawat 'ibu'nya.
Bisa dibuat panti asuhan blog kali, ya....
Well, I guess i'm not more than the other common people, who look with envy eyes at those people with loads of creativity and creates so many in their lives. While in the mean while realising that I can do the same, but i just didn't do it. Or worse, saying that I can do better, if I want to...but in fact never do anything.
Ah, enough blabs, let's really write something
Rabu, 07 Oktober 2009
What Happened
I don't know what happened. I try to get through but the crowd did'nt seem to give a way for me.
I almost yelled some rude language when I finaly saw what they've been looking at.
An accident, they said. Got hit by a car or something.
My heart races, who's got hit?
Then I saw somebody were lying, somebody's small hand and leg.
People started talking about how he hasn't been moving at all, about he's probably dead.
He was seriously injured.
Then I looked at the person kneeling besides him, it was Mas Ghozali, my husband.
I could hear him saying, he's not dead, he's not dead, as if to react to what people murmured behind him.
Then I know what happened.
It was my son that they're talking about.
Tears dripping fast, I ran, I scream, but everything I did I feel I coudn't get to him soon enough.
Everything is too late.
Is he gone already?
Suddenly, his little head moved, he cried, "Ibu.. Ibu..."
Ya, Allah, alhamdulillah... My son's alive!
And then, I woke up.
Tears and sweat all over me.
I got a fever these last two days.
I cound't sleep well, and now I had this dream.
I remember in my really short dreams, I was saying to Allah,
That if it is Your wish to only give us three wonderful years with my son, then so be it.
It's been the most happy and enjoyful three years, that You've blessed us with.
It was a lot, and I'm not shameful to cry for loosing those years.
But we may not worth another one. And that is for his best that he stay with You.
So it's alright, take him. Take a good care of him, please.
But what felt hurt, when in my dream I could hear my husband saying to me,
"I'm sorry, I'm sorry, I'm sorry..."
over and over as if it was his fault while the blame is mine.
I should've take a better care of him, I should've keep my eyes on him all the time.
I'm the one to blame. It's my fault
Please stop saying I'm sorry to me.... It really does hurt.
But I'm awake now.
Luqman is fine, though we both got this nasty flu but we'll survive.
And so is my husband, whose heart always warm up to every child he meets.
While loosing a child is every parent's nightmare, mine is only a nightmare still.
Or perhaps more like a warning to me as a parent,
to become a better mom for him,
to make more laughter than tears coming out of him,
to treasure every day that we live, together.
For we know not, when will it ends.
And when it does ends, hopefully it ends without regrets.
So bismillahirrahmaanirrahiim.
Please be with us, Allah.
Amin
I almost yelled some rude language when I finaly saw what they've been looking at.
An accident, they said. Got hit by a car or something.
My heart races, who's got hit?
Then I saw somebody were lying, somebody's small hand and leg.
People started talking about how he hasn't been moving at all, about he's probably dead.
He was seriously injured.
Then I looked at the person kneeling besides him, it was Mas Ghozali, my husband.
I could hear him saying, he's not dead, he's not dead, as if to react to what people murmured behind him.
Then I know what happened.
It was my son that they're talking about.
Tears dripping fast, I ran, I scream, but everything I did I feel I coudn't get to him soon enough.
Everything is too late.
Is he gone already?
Suddenly, his little head moved, he cried, "Ibu.. Ibu..."
Ya, Allah, alhamdulillah... My son's alive!
And then, I woke up.
Tears and sweat all over me.
I got a fever these last two days.
I cound't sleep well, and now I had this dream.
I remember in my really short dreams, I was saying to Allah,
That if it is Your wish to only give us three wonderful years with my son, then so be it.
It's been the most happy and enjoyful three years, that You've blessed us with.
It was a lot, and I'm not shameful to cry for loosing those years.
But we may not worth another one. And that is for his best that he stay with You.
So it's alright, take him. Take a good care of him, please.
But what felt hurt, when in my dream I could hear my husband saying to me,
"I'm sorry, I'm sorry, I'm sorry..."
over and over as if it was his fault while the blame is mine.
I should've take a better care of him, I should've keep my eyes on him all the time.
I'm the one to blame. It's my fault
Please stop saying I'm sorry to me.... It really does hurt.
But I'm awake now.
Luqman is fine, though we both got this nasty flu but we'll survive.
And so is my husband, whose heart always warm up to every child he meets.
While loosing a child is every parent's nightmare, mine is only a nightmare still. Or perhaps more like a warning to me as a parent,
to become a better mom for him,
to make more laughter than tears coming out of him,
to treasure every day that we live, together.
For we know not, when will it ends.
And when it does ends, hopefully it ends without regrets.
So bismillahirrahmaanirrahiim.
Please be with us, Allah.
Amin
Jumat, 11 September 2009
Janji, janji... tinggal janji...
Surabaya, 11 September 2009
06.00 WIB
@home, kalidami sunyi lepas sahur dan shubuh.
Jengkel, rekasi pertama. Selanjutnya mau marah, tapi ga tega. Setelah berpikir lagi, merasa dipermainkan dan tidak dihormati. Jadi pengen marah-marah lagi. Tapi merasa tak ada gunanya. Apa kemarahanku penting buat mereka yang tidak menganggap penting janji dengan diriku?
Lalu muncul pertanyaan, bagaimana bisa begini? Apa merasa tak punya janji? Lha, wong kita sudah sepakat untuk ketemu tanggal 11 jam 11. Apa kesepakatan itu bukan janji? Kesepakatan, janji, kontrak, itu semua kan sinonim. Lalu apa yang terjadi?
Lupa? Mungkin iya, lupa itu manusiawi. Tapi manusia yang terlalu sering lupa menunjukkan ada sesuatu yang tak beres dengan dirinya. Lupa jadi alasan yang diulang-ulang. Bahkan tak bisa mengingat apa yang dilakukannya kemarin. Kesimpulannya, kalau lupa sudah menjadi bagian hidupmu, kamu harus periksakan diri ke ahli kejiwaan. Apa itu masalahnya?
Haaah… jengkel. Merasa tidak punya cukup kesabaran dan pengendalian diri untuk mengungkapkan kejengkelan secara langsung. Kuatirnya ketika bicara langsung, aku kehilangan poin yang ingin disampaikan. Kuatirnya emosi akan mengalahkan logika. Karena dalam kemarahan setan akan mendorong kita melakukan lebih dari yang pantas. Apa yang harus aku lakukan?
Marahlah kalau itu membuat keadaan jadi lebih baik. Tapi harus marah sama siapa? Bahkan untuk memarahi aku harus membuat janji ketemu mereka, trus kalau diingkari lagi? Duh…. susahnya. Lha kapan dong marahnya?
Bicara langsung memang kelemahanku, tulisan lebih menjadi gayaku menyampaikan maksud. Dibaca ga ya? Cuma Tuhan yang tahu.
Adik-adikku… Rasulullah SAW sangat tinggi memandang sebuah janji. Janji adalah hutang, demikian sabda beliau. Hutang yang harus dilunasi dan tidak akan diputihkan bahkan ketika maut telah mengambil kemampuan kita memenuhi janji itu. Sehingga setiap acara pemakaman secara Islam, akan selalu ditanyakan apakah almarhum atau almarhumah memiliki janji atau hutang yang belum dipenuhi, dan ahli warisnya wajib mengambil alih janji tersebut sehingga yang bersangkutan tidak akan dituntut di Hari Perhitungan kelak.
Memenuhi janji bahkan menjadi pembeda antara yang muslim dan yang munafik. Tapi kita sering lupa akan hal ini ketika kita membatalkan janji dengan mudahnya. Dan dengan demikian masuklah kita ke dalam golongan yang dimurkai dan dipandang rendah.
Pengelolaan waktu yang baik, organizer / agenda entah dalam bentuk buku atau elektronik, reminder di telepon seluler, punya dan lihat kalender, semua itu hal-hal yang akan dengan mudah menghindarkan kita dari kemurkaan Allah dan orang-orang di sekitar kita. Kuncinya hanyalah rajin mencatat dan membaca catatan janji kita. Kemudian prioritaskan janji yang lebih dulu dibuat. Jangan karena orang yang satu lebih galak dari yang lain lalu didahulukan, yang lain dibatalkan. Janganlah kedudukan seseorang atau kedekatannya dengan kita, menjadi pertimbangan dalam memprioritaskan janji. Dalam berjanji, mana yang lebih dulu itulah yang prioritas. Orang-orang yang juga menghargai sebuah janji tidak akan keberatan jika kita memprioritaskan janji yang lebih dulu dibuat, karena mereka juga melakukan hal yang sama.
Manusia dinilai dari kesesuaian kata dan tindakannya. Semakin sesuai, semakin tinggi nilainya. Maka semakin ia dihargai, dihormati dan dipercaya. Stephen Covey menyebutnya integritas. Integritas tidak didapat dengan mudah, ia dibangun dengan susah payah dalam waktu yang lama. Ironisnya integritas bisa hilang dengan mudah, semudah lidah kita mengucapkan pembatalan janji.
Hidup itu penuh pilihan yang harus diambil, hanya manusia sering tidak berpikir ketika memilih melakukan sesuatu. Adalah akumulasi dari pilihan hidup kita menjadikan diri kita sebagai apa adanya saatnya ini. Masih ada waktu selama nafas masih berhembus, pilihan apa yang akan kita ambil selanjutnya. Pilihan yang benar, atau yang mudah? Hidup dengan integritas, atau lenyap tanpa makna?
Saat ini ada kesedihan yang menyeruak, menyerukan harapan yang entah akan terwujud atau tidak: demi kebaikan, pilihlah yang benar, adikku….
06.00 WIB
@home, kalidami sunyi lepas sahur dan shubuh.
Jengkel, rekasi pertama. Selanjutnya mau marah, tapi ga tega. Setelah berpikir lagi, merasa dipermainkan dan tidak dihormati. Jadi pengen marah-marah lagi. Tapi merasa tak ada gunanya. Apa kemarahanku penting buat mereka yang tidak menganggap penting janji dengan diriku?
Lalu muncul pertanyaan, bagaimana bisa begini? Apa merasa tak punya janji? Lha, wong kita sudah sepakat untuk ketemu tanggal 11 jam 11. Apa kesepakatan itu bukan janji? Kesepakatan, janji, kontrak, itu semua kan sinonim. Lalu apa yang terjadi?
Lupa? Mungkin iya, lupa itu manusiawi. Tapi manusia yang terlalu sering lupa menunjukkan ada sesuatu yang tak beres dengan dirinya. Lupa jadi alasan yang diulang-ulang. Bahkan tak bisa mengingat apa yang dilakukannya kemarin. Kesimpulannya, kalau lupa sudah menjadi bagian hidupmu, kamu harus periksakan diri ke ahli kejiwaan. Apa itu masalahnya?
Haaah… jengkel. Merasa tidak punya cukup kesabaran dan pengendalian diri untuk mengungkapkan kejengkelan secara langsung. Kuatirnya ketika bicara langsung, aku kehilangan poin yang ingin disampaikan. Kuatirnya emosi akan mengalahkan logika. Karena dalam kemarahan setan akan mendorong kita melakukan lebih dari yang pantas. Apa yang harus aku lakukan?
Marahlah kalau itu membuat keadaan jadi lebih baik. Tapi harus marah sama siapa? Bahkan untuk memarahi aku harus membuat janji ketemu mereka, trus kalau diingkari lagi? Duh…. susahnya. Lha kapan dong marahnya?
Bicara langsung memang kelemahanku, tulisan lebih menjadi gayaku menyampaikan maksud. Dibaca ga ya? Cuma Tuhan yang tahu.
Adik-adikku… Rasulullah SAW sangat tinggi memandang sebuah janji. Janji adalah hutang, demikian sabda beliau. Hutang yang harus dilunasi dan tidak akan diputihkan bahkan ketika maut telah mengambil kemampuan kita memenuhi janji itu. Sehingga setiap acara pemakaman secara Islam, akan selalu ditanyakan apakah almarhum atau almarhumah memiliki janji atau hutang yang belum dipenuhi, dan ahli warisnya wajib mengambil alih janji tersebut sehingga yang bersangkutan tidak akan dituntut di Hari Perhitungan kelak.
Memenuhi janji bahkan menjadi pembeda antara yang muslim dan yang munafik. Tapi kita sering lupa akan hal ini ketika kita membatalkan janji dengan mudahnya. Dan dengan demikian masuklah kita ke dalam golongan yang dimurkai dan dipandang rendah.
Pengelolaan waktu yang baik, organizer / agenda entah dalam bentuk buku atau elektronik, reminder di telepon seluler, punya dan lihat kalender, semua itu hal-hal yang akan dengan mudah menghindarkan kita dari kemurkaan Allah dan orang-orang di sekitar kita. Kuncinya hanyalah rajin mencatat dan membaca catatan janji kita. Kemudian prioritaskan janji yang lebih dulu dibuat. Jangan karena orang yang satu lebih galak dari yang lain lalu didahulukan, yang lain dibatalkan. Janganlah kedudukan seseorang atau kedekatannya dengan kita, menjadi pertimbangan dalam memprioritaskan janji. Dalam berjanji, mana yang lebih dulu itulah yang prioritas. Orang-orang yang juga menghargai sebuah janji tidak akan keberatan jika kita memprioritaskan janji yang lebih dulu dibuat, karena mereka juga melakukan hal yang sama.
Manusia dinilai dari kesesuaian kata dan tindakannya. Semakin sesuai, semakin tinggi nilainya. Maka semakin ia dihargai, dihormati dan dipercaya. Stephen Covey menyebutnya integritas. Integritas tidak didapat dengan mudah, ia dibangun dengan susah payah dalam waktu yang lama. Ironisnya integritas bisa hilang dengan mudah, semudah lidah kita mengucapkan pembatalan janji.
Hidup itu penuh pilihan yang harus diambil, hanya manusia sering tidak berpikir ketika memilih melakukan sesuatu. Adalah akumulasi dari pilihan hidup kita menjadikan diri kita sebagai apa adanya saatnya ini. Masih ada waktu selama nafas masih berhembus, pilihan apa yang akan kita ambil selanjutnya. Pilihan yang benar, atau yang mudah? Hidup dengan integritas, atau lenyap tanpa makna?
Saat ini ada kesedihan yang menyeruak, menyerukan harapan yang entah akan terwujud atau tidak: demi kebaikan, pilihlah yang benar, adikku….
Langganan:
Postingan (Atom)


