Halaman

Jumat, 03 September 2010

Baju Baru Buat Lebaran

Baju baru buat emak udah, buat si kecil 'tralala dung-dung' juga udah. Bapaknya biar cari sendiri...hehe, maaf, pak...
Lha, yang satu ini 'terpaksa' dibuatkan baju baru, biar ga bikin emak jadi repot. Ini... hape baru emak... (jadi malu).
Bukannya mau sombong, kalo bukan karena Siemens kesayangan akhirnya almarhum, ga bakalan beli hape baru. M65 seri Siemens terakhir kelas outdoor activity lungsuran dari suami tercinta, (ups..!) sayangnya udah ga dijual lagi di toko. Jadi dibelikan hape qwerty yang ukurannya gede2 walo harganya ga gede itu. Berhubung ukuran segitu ga cukup dikantongi, maka dibuatlah baju ini. Kebetulan kok pas sebelum lebaran....

Nih, keren ya?


Many thanks for Lily Nailufal Azhar (semoga ga salah tulis), chebonks atas desain kerennya, but i just have to have the string attached! Kalo ga, ntar teteup bingung megangin hapenya.Emang ga persis punya Ly, secara ga punya stok kancing  dan kalo harus keluar belanja ntar keburu ilang moodnya, hehe... Dan ga mirip telepon juga ya? Walah... jadi apa dong? Anyway, i still like it. Coz it's handmade by me!!!!

Persiapan bahan dan pola tadi malam habis buka puasa, pengerjaan tadi pas sahur sampai sekitar jam 6.
Emang kalo ada niat pasti jadi, ngumpulin tekadnya ini yang susah ya...

Semoga project lainnya cepat menyusul. Amin

Minggu, 20 Juni 2010

Tas Cantik dari Sarung Bantal

1 finished projects!
Hehe... dengan kemauan yang kuat melebihi keinginan untuk nge-net tanpa arti, akhirnya terwujudkan 1 proyek prakarya kita. Jreeeng !!!!

Start tadi pagi, selesai sekitar makan siang. Harusnya bisa lebih cepat, tapi berhubung sayanya newbie dalam hal jahit-menjahit dengan mesin jahit, jadilah prosesnya bertambah lama karena berulang kali membongkar jahitan yang gagal.

Ini hasilnya, diperagakan oleh model :
 Ini gaya lain sang model




Bikinnya gampang banget.
Bahan : Sarung bantal, baru atau bekas boleh.
Beli baru di Pasar Karang Menjangan cuma 5 ribu sebuah. Bahannya yah biasa aja. Tapi motifnya lumayan bagus kok.

Trus sarung bantal dibagi dua secara diagonal.
Jadilah 2 buah segitiga siku-siku, satukan sisi lebarnya di bagian bawah. Sisipkan satu segitiga di dalam segitiga lainnya, lalu jahit.
Jadinya akan seperti ini

Untuk talinya cuma diikat saja dengan simpul mati.
Sarung bantal yang saya gunakan agak pendek, sehingga sisa untuk talinya juga pendek.


Kalo untuk proyek saya inimasih akan saya tambahkan aplikasi inisial huruf dari perca, soalnya untuk kado ponakan.
Berdoa aja anaknya ga ngeh dengan jahitan yang amburadul (amiiin).

Hmm, kalo pake sarung guling jadinya gimana ya...?
Hehe, ide tas ini saya dapatkan dari situsnya martha stewart, coba aja buka.
Banyak ide keren lho.
Bisa berhemat dengan membuat sendiri berbagai asesoris rumah.

Doakan proyek-proyek saya lainnya juga bisa sukses diselesaikan ya...

Jumat, 04 Juni 2010

Hati-hati, Penipuan via Telepon

Awalnya si penipu menelepon ke telepon seluler seseorang, katakanlah Bapak Budi. Dengan mengemukakan alasan yang bisa diterima si pemilik telepon seluler, maka si pemilik HP akan mematikan pesawat teleponnya. Kemudian si Penipu menelepon ke rumah Pak Budi, mengabarkan pada Bu Budi bahwa Pak Budi mengalami kecelakaan sehingga dalam kondisi kritis. Bu Budi diminta segera mentransfer sejumlah uang untuk biaya operasi dan perawatan.
Pak Budi memang sedang berada di luar kota. Bu Budi yang panik berusaha menghubungi suaminya namun tak bisa. Tentu saja, karena HP sang suami mati atas permintaan penipu.

Dalam sebuah kasus, penipu bahkan berhasil membuat satu keluarga mulai bapak, ibu, dan anak-anak mereka mematikan HP, sehingga pihak keluarga yang  dihubungi penipu kebingungan dan percaya pada tipuannya.

Seperti yang dikatakan Bang Napi, memang kita harus selalu ... "Waspada, Waspadalaaahhh...!"
Kuncinya adalah tetap tenang, walau seburuk apa pun kabar yang kita terima.
Sehingga kita tetap dapat berpikir logis dan rasional.
Coba mengingat jadwal & aktivitas anggota keluarga yang dikabarkan tadi.
Barangkali kita bisa menghubungi kantor, hotel, anggota keluarga atau teman-teman yang kira-kira bersama dengannya.
Jika gagal kita bisa menelepon pihak rumah sakit dimana suami/anggota keluarga dikabarkan menjalani perawatan.

Kalau memang nasib lagi apes dan akhirnya kena tipu juga....
Walau memalukan, kita wajib menyebarluaskan modus operandi para penipu ini agar tak lebih banyak lagi yang tertipu macam kita.

Omong-omong, walaupun saya menyebarluaskannya, bukan berarti saya tertipu, lho...
Ini kejadian yang dialami teman saya, yang alhamdulillah gagal ditipu.
Tapi sayangnya ada teman sekantornya yang sudah jadi korban.

Terakhir, banyak berdoa dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, ya...
Insya Allah kita akan dihindarkan dari niat jahat orang lain.
Amin

Jumat, 21 Mei 2010

Sungguh-sungguh Manusia

Sungguh, manusia itu makhluk yang lemah!
Satu saja diambil oleh Tuhan, kenikmatan yang biasa ia nikmati, maka lihatlah betapa ia terguncang-guncang seakan seluruh dunianya runtuh.

Dan sungguh, manusia itu makhluk yang bodoh!
Ketika satu nikmatnya itu tiada, barulah ia menyadari akan karunia Tuhan yang tak terhitung, yang telah ia sia-siakan.
Apakah ia tak mampu berhitung? Bukan itu sebabnya.
Apakah ia tak mampu melihat? Mungkin bisa, tapi melihat hanya dengan mata, hatinya buta.
Ketika ia disentakkan oleh sakit dan derita, barulah mata hatinya terbuka.

Sungguh, manusia adalah makhluk yang kuat.
Dari kesengsaraan dan kehinaan yang paling rendah, ia mampu menemukan berlian kekuasaan bertindak atas nasibnya dan bangkit dengan gemilang.
Dari kebodohannya ia mampu mencari pelita ilmu yang menerangi jalan menuju kemuliaan.
Ia memiliki keteguhan dan kesabaran untuk terus berupaya hingga ujung jalan keberhasilan.
Sungguh, ia adalah makhluk yang mulia.

Sungguh tak mengherankan karena manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan.

A Good Story

...is like a trap which binds its reader with simple but actualy complicated story, hypnotize you till the end, unable to move your eyes away.

I just looooove good stories !!!!

just another commoners

heee.... posting terakhir udah 8 bulan yang lalu...!!!
Alamak, betapa produktifnya emak kita yang satu ini. Memalukan!
Jadi sempat berpikir, kira-kira ada berapa jumlah blog yang nasibnya macam blog saya ini, ya?
Sudah dibuat, lalu tak pernah lagi dilihat dan dirawat 'ibu'nya.
Bisa dibuat panti asuhan blog kali, ya....

Well, I guess i'm not more than the other common people, who look with envy eyes at those people with loads of creativity and creates so many in their lives. While in the mean while realising that I can do the same, but i just didn't do it. Or worse, saying that I can do better, if I want to...but in fact never do anything.

Ah, enough blabs, let's really write something

Rabu, 07 Oktober 2009

What Happened

I don't know what happened. I try to get through but the crowd did'nt seem to give a way for me.
I almost yelled some rude language when I finaly saw what they've been looking at.
An accident, they said. Got hit by a car or something.
My heart races, who's got hit?
Then I saw somebody were lying, somebody's small hand and leg.
People started talking about how he hasn't been moving at all, about he's probably dead.
He was seriously injured.
Then I looked at the person kneeling besides him, it was Mas Ghozali, my husband.
I could hear him saying, he's not dead, he's not dead, as if to react to what people murmured behind him.
Then I know what happened.
It was my son that they're talking about.
Tears dripping fast, I ran, I scream, but everything I did I feel I coudn't get to him soon enough.
Everything is too late.

Is he gone already?

Suddenly, his little head moved, he cried, "Ibu.. Ibu..."
Ya, Allah, alhamdulillah... My son's alive!

And then, I woke up.

Tears and sweat all over me.
I got a fever these last two days.
I cound't sleep well, and now I had this dream.

I remember in my really short dreams, I was saying to Allah,
That if it is Your wish to only give us three wonderful years with my son, then so be it.
It's been the most happy and enjoyful three years, that You've blessed us with.
It was a lot, and I'm not shameful to cry for loosing those years.
But we may not worth another one. And that is for his best that he stay with You.
So it's alright, take him. Take a good care of him, please.

But what felt hurt, when in my dream I could hear my husband saying to me,
"I'm sorry, I'm sorry, I'm sorry..."
over and over as if it was his fault while the blame is mine.
I should've take a better care of him, I should've keep my eyes on him all the time.
I'm the one to blame. It's my fault
Please stop saying I'm sorry to me.... It really does hurt.

But I'm awake now.
Luqman is fine, though we both got this nasty flu but we'll survive.
And so is my husband, whose heart always warm up to every child he meets.

While loosing a child is every parent's nightmare, mine is only a nightmare still.
Or perhaps more like a warning to me as a parent,
to become a better mom for him,
to make more laughter than tears coming out of him,
to treasure every day that we live, together.
For we know not, when will it ends.

And when it does ends, hopefully it ends without regrets.
So bismillahirrahmaanirrahiim.
Please be with us, Allah.
Amin