Halaman

Senin, 16 Mei 2011

Reality bites, ouch!

Hari ini harus kembali melepas kepergian seorang teman.

Mau tak mau, ingatanku melayang padamu.
So far away, so out of reach, please be alright, honey
Jantung berdegup kencang tak henti.

Setiap melihat perpisahan seperti ini, seolah mengingatkan bahwa aku juga harus selalu siap jika harus mengalaminya.
Tapi apakah kita akan pernah siap menghadapi perpisahan seperti ini?
We never know the answer, I guess, till finaly we faced the reality.

Kenyataan bahwa kita lahir ke dunia seorang diri, dan harus siap menjalani hidup seorang diri pula.
Karena pada akhirnya, semua yang kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan seorang diri.

Ketika itu barulah kita tersadar, bahwa hanya pada kasih sayang-Nya kita berserah diri,
berbekal keyakinan bahwa Ia takkan pernah meninggalkan hamba-Nya yang mencintai-Nya,
maka kita pun harus melanjutkan hidup.

Sungguh rapuhnya manusia, hanya dengan belas kasih-Nya ia datang dan pergi dari dunia yang hanya sementara.
Yang walau pun hanya sementara, betapa kita menggantungkan seluruh cinta dan upaya kita pada kehidupan ini.
Yang betapa pun erat kita berusaha mempertahankan apa yang kita miliki, pada akhirnya kita harus pasrah dan ikhlas jika harus melepaskan.

Pelajaran hari ini, memiliki berarti harus siap melepaskan, walau seakan meluluhlantakkan segenap daya hidup.
Betapapun pahit, semua adalah skenario Allah untuk menjadikan kita lebih mulia.

Boleh jadi kau menyukai sesuatu padahal itu tidak baik untukmu, boleh jadi kau tidak menyukai sesuatu padahal itu baik untukmu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.

Surabaya, 16 Mei 2011
Usai pemakaman Kak Dodik Prasetya
Gudep Surabaya 611 Pangkalan Kampus ITS

Jumat, 15 April 2011

Adikku

Kemarin Luqman (4 tahun 5 bulan) ngobrol dengan Ikhlas (udah TK) yang sedang mengajak adik sepupunya berjalan-jalan.

"To, To, ayo main bola..." ajak Ikhlas pada adiknya.

"Adikmu namanya Pato, ya?" Luqman bertanya dengan nada heran.

"Bukan, namanya Ito." jawab Ikhlas.
"Oh, kalau adikku namanya Pocoyo"  ucap Luqman penuh percaya diri.

Aku ngakak sendiri di dalam rumah.

Rabu, 13 April 2011

Makin tua, makin....

Matahari baru muncul sedikit malas, hawa dingin mendung pagi membuat aku berharap tak meninggalkan jaketku di rumah. Saat itu Mariana dengan heboh memelukku,  "Mbak....! Selamat, ya...!"

"Selamat apa?" Bengong...
"Ini tadi baru buka fesbuk, rupanya mbak ulang tahun ya?"
"O...iya."

Ding, suer aku ga inget, kemarin-kemarin sih inget. Eh, pas hari H lupa! Sekilas melirik suami, hehe... kayaknya dia juga lupa.

Siang ini baru buka FB, agak heran dengan 24 notif di situ. Tapi biarin dulu deh, mau baca-baca status dulu. Agak lama baru nyadar, eh ucapan selamat ultah kali, ya...? Hehehe... baru inget lagi kalo abis ulang tahun.

Ah, tambah umur kok ga sadar-sadar ya. Malah tambah pikun begini.
Anyway, it's always a good thing reading those happy birthday posts on your wall. A reminder that you have these friends that care for you and for you to take care. Thank you everyone...

So, my birthday resolution is to wish happy birthday to anyone I know from now on.

And for those that I missed, I'm trully really sorry. This forgetfullness is annoying indeed.

Senin, 04 April 2011

Hadiah Tak Terduga

Bulan Februari 2011 lalu, saya menerima telpon seorang lelaki yang mengaku petugas Telkom. Setelah mengkonfirmasi nomor telepon dan nama pelanggan, ia lalu menyampaikan pada saya,

"Ibu. Ibu mendapat hadiah dari PT. Telkom, yaitu ..... menit telepon lokal dan ..... telepon interlokal.
Untuk keterangan lebih lanjut, ibu dapat menghubungi 147."

(Saya sudah lupa berapa angka yang ia sebutkan)

"Terima kasih"

Saya tidak menanggapi lebih lanjut. Karena kami jarang menggunakan telepon rumah, selain untuk menerima panggilan dan menelepon nomor-nomor lokal. Jadi tidak terlalu excited lah.
Suami sempat berkomentar, ah jangan-jangan bohong.
Saya pikir, sekalipun bohong kan ga masalah. Kalo nggak dipakai kan ga ngaruh, sih?

Bulan Maret 2011, suami saya lapor, "Tagihan telpon kok banyak ya? Biasanya ga sampai 40 ribu, ni kok sampai Rp 71.500,- ?"
"Iya, saya banyak telepon interlokal kali..."
"Ah, biasanya juga ada telpon interlokal, tapi ga sampe segini tagihannya.." tampiknya

Hmm... benar juga, saya pikir pemakaian saya hampir sama seperti sebelumnya. Akhirnya saya cek rincian tagihan lewat telepon 109. Ternyata memang ada tambahan Rp 65.000,- untuk layanan non jastel.

17 Maret 2011 saya tanyakan ke 147. CS yang menerima menyampaikan bahwa non jastel yang dimaksud adalah fitur tambahan layanan telepon rumah, berupa paket telepon lokal dan interlokal dengan tarif Rp65.000,-/bulan.

Walah.... saya kan tidak pernah meminta layanan tersebut, mengapa bisa mendadak ada dan muncul tagihan?

Spontan saya minta layanan itu dicabut.

"Nggak sayang, bu?" tanya mbak CS.
"Nggak, mbak."

"Kalau boleh tahu, alasannya apa?"
"Tagihan saya jadi besar, mbak. Dan saya tidak pernah meminta atau mendaftar untuk layanan ini."

Lalu saya ceritakan tentang telepon yang saya terima, "Ini sebenarnya kan penipuan, mbak. Tolong teman-teman marketingnya diberitahu, jangan begini dong caranya." ujar saya setengah jengkel, "Kalau sampai keluar di koran, kan nggak baik untuk Telkom sendiri"

"Baik, bu, akan kami sampaikan. Mungkin ibu tertarik dengan paket telpon hp, cuma...."
"Terima kasih, mbak. Tapi saya tidak perlu. Jadi bagaimana saya bisa tahu kalau fitur ini sudah dicabut atau belum?"

"Ibu silakan konfirmasi ke 147 tanggal 1 bulan depan"

Jumat, 1 April 2011, suami saya mengkonfirmasi ulang, ternyata fitur itu belum dicabut. CS menyampaikan bahwa pencabutan masih dalam proses, mungkin perlu beberapa hari.

Senin, 4 April 2011, saya telpon ulang dan memperoleh jawaban yang sama. CS tidak dapat memastikan kapan fitur tersebut dicabut.
"Lha, kalo sampai akhir bulan, masih belum dicabut, jadi saya harus bayar lagi layanan yang tidak saya pesan itu?" protes saya pada si mbak CS.
"Untuk bulan April, yang ditagihkan adalah pemakaian bulan Maret, bu. Kalau ibu merasa keberatan dengan tagihan itu nanti, ibu dapat mengajukan ke Telkom" jawab CS tersebut.

Jadi, saya menyimpulkan mungkin saya harus komplain untuk 2 hal, pencabutan fitur dan tagihan.
Pertanyaannya, komplain saya akan dilayani kapan?

"Masih dalam proses, bu... Mungkin beberapa hari lagi...", begitu saya membayangkan jawaban yang akan saya terima seandainya saya mengajukan komplain kelak....

Sungguh 'hadiah' yang tak terduga...
Makasih, ya

Antara CS dan Tukang Serpis....

Ada hubungan apa, ya?

Lha, ya memang itu pertanyaan saya.

Sebagai konsumen yang awam, saya berharap ketika saya memasukkan pengaduan kepada Customer Service (CS), maka masalah yang saya adukan akan segera terselesaikan. Namun dari pengalaman, ternyata CS di beberapa perusahaan hanya bertugas menerima pengaduan saja. Mereka tidak dapat memberikan kepastian kapankah masalah kita akan diselesaikan. Akhirnya ketika telpon berulang kali, jawaban yang diberikan sama dengan jawaban ketika telpon pertama kali.

"Iya, bu... sedang dalam proses, dalam beberapa hari akan kami selesaikan"

Padahal beberapa hari yang lalu juga begitu jawabannya. Ya, emang script standarnya begitu kali ya?

Sekarang apa gunanya melaporkan pengaduan gangguan dsb, kalo cuma numpuk di CS?
Sebenarnya pasti CS sudah meneruskan kasus kita ke bagian yang berwenang membereskannya (ini dari sudut pandang berprasangka baik, hehe...). Hanya saja sepertinya tidak ada data mengenai perkembangan kasus yang bisa diakses oleh mereka. Atau tidak ada standar prosedur yang memastikan bahwa per kasus akan ditangani dalam waktu X hari, misalnya. Sehingga ketika sebagai konsumen saya bertanya, ini pengaduan sudah dari tgl sekian, trus tgl sekian, dan sekarang telpon lagi... kok belum beres? Kapan beresnya? Nah, lho... cuma bisa bilang tunggu, ya bu....

Hiii... kalo yang ngomong begitu anak saya, udah saya cubit kali....Hehe, maaf, ya sayang...

Jadi CS ma Tukang serpis ada hubungan apa enggak, ya? Hehe... mungkin teman-teman yang sekarang atau dulu pernah berprofesi  sebagai CS atau tukang servis ini bisa menjawab pertanyaan saya. Geregetan banget, nih. Katanya Comitted tu yu... Komit sama tagihannya saja kah?

Masa sih, kalau mau dilayani harus lewat Surat Pembaca atau FB dulu?
Ah, Indonesia bangeeeut.... kapan majunya?

Senin, 28 Maret 2011

Ngobrol ma pak sulap

Dialog Luqman (4 th 4 bulan) dengan Pak Yosef (pesulap)


Pak Yosef (P) : Ayo, sini anak pinter, naik ke panggung sini...

Luqman naik ke panggung lalu diajak berdialog oleh Pak Yosef

P : Namanya siapa?
L : Luqman

P : Luqman kalau sudah besar mau jadi apa?
L : Tentara

P : Kalau mau jadi tentara, harus rajin belajar, ya. Belajar apa?
L : Belajar nembak... nembak maling sama penjahat
Penonton : Grrrr!

P : Sekarang Luqman nyanyi, ya.. Balonku ada 5, coba...
L : Enggak, enggak..

P : Satu-satu aja, deh
L : Nggak usah...

P : Oh, lagunya Pasha, ya. Pernahkah kau merasa...?
L geleng-geleng kepala

P : Yo, wis belum pernah merasa, ya...
    Cerita gajah aja. Ikuti saya, ya
    Gajah....
L : Gajah...

P : Binatang yang amat besar....
L : Iya...

P : Lho, ikuti saya...! Telinganya lebar....
L : Iya betul....(sambil mengangguk-angguk)

P : Waduh! Ikuti kata-kata saya ya... Gajah binatang yang amat besar...
L : Gajah binatang yang amat besar...

P : Telinganya lebar...
L : Telinganya lebar...

P : Matanya kecil...
L : Matanya kecil, nggak kelihatan.
Penonton : Grrrrr...!

P : He....? Matanya kecil, kakinya...?
L : Kakinya bengkak
Penonton : Grrrr...!

P : Wis, anak pinter. Sekarang dapet hadiah dua.
Pak Yosef menyerahkan 2 hadiah kecil

P : Kalau dapat hadiah, ngomong apa?
L : Terima kasih

P : Bahasa Inggrisnya?
L : I love you
Penonton : Grrrr...!

Senin, 21 Maret 2011

No Regret

Regret comes later
when it's too late to change the outcome

It's a fact and experience of others,
us too

We actually have a built-in early warning sistem of regret inside us.
Our conscience, a small voice whispering to remind us

But we usually shut it in the corner,
"Live me alone, I'll do as I like!"

and then we pretend we don't hear this voice of reason.

And finaly the day comes.
The day when we regret what we did,
and we regret that we didn't do what we should do.

Question : How many days of regret that we are still willing to suffer?

Fact :  We don't have much time left in this world.
           Wether we sleep or working, the clock is ticking
           Time and people, When they're gone, they're gone

LIVE FOR TODAY
Like tomorrow is the end of days

LIVE FOR TOMORROW
Like you'll live forever (living forever needs a lot of preparation, you see...)

LIVE WITHOUT REGRET
That's sounds like a beautiful way of living, innit?

Friday, 25 April 2008
-20 days after he passed away-