Halaman

Selasa, 21 Mei 2013

Rindu

Apa kabar blogku tersayang?
Debu tebal menyelimutimu, maafkan aku lama tak datang.
Ah, engsel pintu pun sulit dibuka terkunci karat.
Marahkah kau hingga tak sudi membuka?
Maaf, maaf, maaf... Maafkan aku.
Tapi mungkin akan kuulangi lagi, jadi apa artinya maaf?
Kata maaf untuk melegakan hatiku dari himpitan rasa bersalah?
Sama seperti salahku pada mesin jahit dan tumpukan kain di sudut sana.
Hidup berlalu begitu cepat, waktu yang hilang tak bisa diputar kembali.
Memilikimu mengingatkan betapa banyak waktu yang terlewat tanpa sempat merenung.
Manusia bergerak dan terus bergerak, ketika ia lupa mengambil jeda, ketika itulah ia melawatkan saat penting untuk mengambil makna.
Bersabarlah denganku, aku mungkin akan mengulangi kesalahan ini. Dan kau selalu hadir untuk mengingatkanku.
Terima kasih

Kamis, 17 Januari 2013

Dari Skripsi Menjadi Buku, Berbagi Bersama Afin Murtiningsih, Kelas Menulis Ibu-Ibu Doyan Nulis – Jawa Timur



Minggu pagi nota bene adalah hari keluarga bagi kebanyakan ibu, namun kali ini ada yang sedikit berbeda buat saya. Usai menunaikan tugas rumah tangga, minggu pagi ini saya berpamitan pada anak dan suami saya untuk berangkat ke Sidoarjo. Jarak Surabaya – Sidoarjo saya tempuh dalam waktu satu jam, selain jauh dan tidak berani beraksi di jalan raya, saya juga sempat tersesat mencari lokasi yang saya tuju. Ingin tahu apa yang membuat saya bersemangat pagi ini? 
Nah, inilah asyiknya bergabung dengan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis.  Bergabung dengan sebuah grup di jejaring sosial yang kini anggotanya sudah lebih dari 5.500 orang dari seluruh Indonesia dan luar negeri, merupakan kesempatan belajar yang luar biasa. Hari ini, Korwil Jawa Timur untuk pertama kalinya mengadakan Kelas Menulis. Diadakan di rumah mbak Afin Murtiningsih, salah satu anggota senior IIDN. Mbak Afin, sapaan akrabnya, adalah seorang penulis produktif yang sudah menelurkan berbagai buku manajemen, parenting, hingga ilmu kesehatan populer.  Tulisannya pun sudah sering tampil di berbagai media. Tentu saja, saya tak boleh melewatkan kesempatan untuk ‘mencuri’ sedikit ilmu dari beliau dan para anggota IIDN lainnya.
Setiba di sana hanya Mbak Nunu El Fasa yang saya kenal, namun sesi perkenalan membuat kami langsung akrab. Teman-teman yang hanya saya kenal namanya, kini mewujud nyata di hadapan saya. Bak iklan layanan masyarakat yang sempat populer, kini saya bisa lihat, dengar, dan raba langsung orangnya, hehehe…
Sesi pertama diisi mbak Afin dengan berbagi pengalaman berkarir di tulis menulis. Ia sempat mencoba menulis fiksi, namun beberapa kali gagal. Lalu ia menemukan jalur yang disukainya dengan menulis hal-hal yang akrab dengan dirinya, seperti psikologi, kesehatan, marketing. Awalnya ia menulis sebagaimana ia menulis skripsi, membuat proposal yang diajukan untuk diterbitkan. Jika disetujui, barulah ia menulis bukunya. Belakangan ia mengetahui bahwa apa yang dibuatnya itu disebut  outline atau kerangka penulisan. Ia pernah mengajukan 30 outline  dan hanya diterima 10 outline. Wow, berarti satu hari bisa menulis satu outline dong, bisik mbak Diah Kusumastuti di samping saya. Ide yang melimpah diperolehnya dengan banyak membaca. Berhubung kantornya bertempat di atas sebuah toko buku ternama, setiap jam istirahat dimanfaatkannya untuk membaca. Menulis dilakukan mbak Afin di pagi hari, beberapa jam sebelum anak-anak bangun dan ia harus memulai aktivitas sebagai seorang ibu dan istri. Saya bukan orang yang biasa bergadang untuk menulis, ungkapnya. Paling malam saya tidur jam 10 malam. Jadi saya harus konsisten menulis setiap hari. Untuk itu, saya berusaha menjaga kondisi agar tetap stabil. Misalnya ketika senang, saya batasi tidak terlalu berlebihan, ketika sedih pun demikian. Termasuk ketika sakit hati, saya juga berusaha untuk tidak terlalu sakit. Jadi saya tidak perlu menunggu mood untuk menulis.
Semua orang punya kelebihan dan keunikan masing-masing, prinsip Mbak Afin dalam menulis. Tak perlu membandingkan diri dengan orang lain, senior atau yunior, lebih pintar atau lebih terkenal. Yang penting ketika kita menghadapi penolakan dan kritik, maka kita harus berusaha memperbaiki diri dan menjadi lebih baik.
Teknik menulis kerangka penulisan juga sempat dibahas, yang pembahasannya akan dilanjutkan melalui jaringan sosial dan Kelas Menulis berikutnya. Cara membuat kerangka penulisan sempat dibagi oleh mbak Afin dan Mbak Nunu El Fasa yang juga hiper aktif dalam menulis.
Dokumentasi Ibu Tatit Ujiani
Mumpung sedang di rumah mbak Afin, para peserta pun dibolehkan melongok studio mini di rumah mbak Afin. Suami mbak Afin yang hobi fotografi, Pak Marzuqi Yahya, memberikan tips-tips memotret makanan dengan menggunakan kamera saku dan bagaimana mengoptimalkan fitur-fitur yang tersedia di dalamnya. Sekarang, yang punya kamera jadi paham bagaimana menghasilkan foto bagus dengan kamera yang tadinya dikira cuma gini doang.


Dokumentasi Bp. Marzuqi Yahya
Sebagai penutup acara, lontong kupang khas sidoarjo pun ikut meramaikan suasana. Namanya juga acara ibu-ibu, belum lengkap kalau belum makan-makan. Apalagi semua ibu yang hadir membawa makanan kecil untuk teman ngobrol. Dan, masih ada doorprize 4 buah buku  dari Mbak Afin dan Mbak Nunu untuk ibu-ibu yang beruntung. Ah, sudah dapat ilmu, dapat makanan enak, dapat hadiah pula. Saya pulang dengan perasaan ‘kenyang’ jiwa raga. Terima kasih, IIDN!

Kamis, 13 September 2012

puisi cinta #1

batang nyiur gemetar
hembusan angin merayapi setiap jenjang tubuh
nakal menyibak daun-daun panjang
seraya berbisik mesra, aku cinta padamu

Minggu, 13 Mei 2012

Cerita Jaman Dulu

Malam itu agenda kami sebenarnya adalah sarasehan bersama para pembina pramuka di gugus depan kami, terkait dengan pola pembinaan penegak pandega di perguruan tinggi. Undangan jam 7 lebih 15 menit malam itu di kediaman salah seorang kakak pembina yang dulu menjadi pembina pandega saya. Seorang teman, sepantaran adik suami saya, hadir pertama mendahului saya dan suami. Tak lama kemudian, datanglah dua orang pembina super senior di antara kami. Tuan rumah keluar menyambut tamu-tamu istimewa ini. Dan saya mengikuti dengan asyik obrolan mereka. 

Istilah super senior tadi bisa dijelaskan sebagai berikut. Gugus depan gerakan pramuka kami, yang berpangkalan di perguruan tinggi, resmi berdiri tahun 1983. Dan pembina-pembina yang tengah berbincang di hadapan saya adalah para pencetus dan pendiri gugus depan kami. Yang dua orang kini telah bergelar profesor. Yang seorang adalah seorang anggota direksi sebuah kontraktor besar. Nyonya rumah sudah berhenti dari kesibukannya sebagai dosen, namun masih asyik dengan aktivitasnya mengurus TK dan anak bungsunya yang sebentar lagi akan duduk di bangku kuliah. Jadi rata-rata anak beliau-beliau ini sudah dewasa, ada yang sudah menikah dan memiliki anak mereka sendiri.

Dan entah dari mana awalnya, kami lalu mulai bicara tentang perubahan anak-anak muda sekarang ini. Oh iya, saya ingat. Ketika itu si bungsu datang membantu sang ibu membawa sajian. Si bungsu yang sejak kecil sudah akrab dengan kegiatan kami, tentunya sudah mengenal para tamu yang juga teman-teman dekat orang tuanya. Tapi usai meletakkan nampan di atas meja, ia hendak kembali ke 'dunia'nya (yah, saya kan tidak tahu dia tadinya sedang apa, sebelum dipanggil sang ibu). Sang ayah menegur, ayo salaman dulu dong dengan pakdhe, budhe, tante... Tersenyum malu, dia menyalami kami semua lalu langsung masuk ke dalam.
Gitu itu anak sekarang, komentar sang ayah. Si ibu tertawa lalu bercerita, dulu dia pernah bicara dengan ayahnya, Pak, ayo mangan dhisik. Kontan ayah ibunya ketika itu tertawa terbahak-bahak. Saya cuma bilang, Dek, yang bisa mangan itu wedhus, sang ayah melengkapi cerita. Dan si adek cuma bengong, tak mengerti maksud kedua orang tuanya. 
Dalam bahasa jawa, memang ada tataran bahasa kasar, halus, hingga haluuuus sekali. Lha, si adik yang tak mengerti penggunaan bahasa, bicara dengan orang yang harus dihormati dengan menggunakan bahasa yang tingkatannya untuk teman sebaya, atau yang lebih rendah.
Tapi, memang itu salah kita sendiri, sahut kakak pembina saya yang lain. Kita tidak pernah membiasakan atau memberi contoh. Bahasa sehari-hari di rumah adalah bahasa Indonesia. Di luaran si anak berbahasa jawa, tapi bahasa jawa sehari-hari yang ngoko. Jadi harapan kita supaya mereka bisa berbahasa halus, ya tidak mungkin tercapai.

Menantu perempuan saya, lanjutnya, pernah disuruh makan oleh istri saya. Jawabnya, masih kenyang bu, nanti saja. Padahal jaman dulu, mana berani istri saya menolak kalau disuruh ibu saya. Biarpun sudah makan, ya tetap makan lagi. Melawan perintah orang tua yang dihormati? Terpikir pun tidak.
Tapi itu bukan karena dia bermaksud tidak sopan, lho. Hanya sekarang ini di jamannya mereka, mengungkapkan pendapat memang lebih bebas dibanding jaman kita-kita dulu. Menurut mereka, itu sopan-sopan saja.

Misalnya saja ternyata di antara teman-teman anak-anak saya, saling memakai barang milik temannya itu hal biasa. Bahkan tanpa minta izin sebelumnya. Kembalinya juga tidak dalam keadaan bersih dan wangi, habis dipakai ya langsung saja dikembalikan. Masalahnya, suatu hari yang dipakai teman anak saya, adalah sepatu saya. 
Wah, kami semua spontan terbahak. 

Kok, temanmu pakai sepatu bapak, mas? 
Tadi sudah bilang ke saya, pak.
Lha, itu kan sepatu bapak.
Ah, masa gitu aja pakai ngomong bapak.

Kami semakin terbahak-bahak. 
Lha iya, unggah-ungguhnya anak sekarang itu, sudah jauh dari jaman kita dulu, timpal ibu profesor di sebelah saya. Kalau pakai standar jaman dulu, bisa-bisa saya sakit hati setiap hari. Lha wong, mahasiswa asistensi tugas kok tidak bawa bolpoin, atau pensil sekalipun. Mau mencatat tolah-toleh, tahu-tahu mau menyambar pensil di tangan saya. Aduh, sampai kaget saya! Mau apa kamu? Langsung saya tanya begitu. 

Bapak profesor menambahkan, Yah, memang mereka di rumah tidak dibiasakan sopan santun. Di masyarakat juga dibiarkan saja. Tidak ada fungsi kontrol lagi, akhirnya jadi kebiasaan.

Sementara beliau bicara, anak saya yang berumur 5,5 tahun berjalan mondar-mandir menginspeksi setiap isi toples. Waduh, ini dia muncul contohnya, batin saya. Hayooo, nak. Mari duduk sama ibu. Si 5 tahun melengos dan beranjak pergi. Hehehe... 
Biarkan saja, kata kakak pembina saya, namanya juga anak aktif.

Sambil meringis, saya jadi berpikir, apa karena pendidikan sekarang lebih mengerti karakter anak yang aktif dan suka bereksplorasi, akhirnya standar sopan santun juga diturunkan dan lebih permisif. Terkadang terlalu permisif hingga tak lagi ada batasan. Yang penting anaknya cerdas, kreatif, pintar. Tapi akhirnya juga jadi pintar membantah, kreatif mencari cara melingkari aturan.

Saya tidak ingin anak saya seperti itu. Kadang si kecil bertanya, temanku boleh begini, mengapa aku tidak? Terkadang saya kuatir, apa saya dan suami menuntut standar perilaku yang terlalu tinggi dari si kecil kami? Hm, sepertinya harus ada perangkat ukur supaya kita sebagai orang tua bisa menyeimbangkan antara memberi ruang berekspresi dan mengajari sopan santun. Atau bagaimana menjaga kebebasan anak untuk belajar tapi tetap memiliki etika.

Apa ya itu? Ah, sementara hanya ini yang ada di otak saya. Nanti ketika lapar ini sudah hilang, mungkin ilham akan datang bersama nutrisi makan siang saya.

Minggu, 07 Agustus 2011

Envy

Been snooping around a friend's photo album in fesbuk :)
Dan anehnya dibuat terpesona memandangi foto-fotonya, seorang perempuan bersama dua anak balita. Ia tentu saja bukan model, demikian pula anaknya. Agaknya si tukang foto yang juga suaminya memang pintar mengambil gambar sedemikian sehingga fotonya 'bercerita'.
Cantik, bukan kecantikan ala Luna Maya atau Sandra Dewi yang memukau. Tapi, you can feel the love and joy in their picture, perasaan yang tersampaikan itu membuat fotonya indah.

Hm, kapan ya saya bisa fotogenic? Walaupun suami tercinta juga hobi fotografi, tapi mungkin saya objek foto kesekian ribu dari semua objek yang ingin dipotretnya, hehe.....

Jumat, 05 Agustus 2011

Aku Tidak Suka Puasa!

Hari ini hari ketiga Luqman berpuasa. Lengkap dengan bangun sahur dan shalat Shubuh di masjid bersama sang bapak. Cuma sampai jam 10 pagi, sih... Namanya juga belajar. Tapi dia benar-benar tidak makan dan minum sampai jam 10 itu. Hebat, deh.
Buka puasa jam 10 disambutnya dengan gembira, tak lupa berdoa dulu mengikuti bacaan ibu, walau masih salah-salah. Menunya sirup terong belanda dari eyang, jajan kecil dan permen... hehe.. Pokoknya yang dia suka.

Tapi hari ini hari pertama puasa di sekolah, setelah libur awal puasa. Tadi pagi karena bangun sahur terlalu awal, jadinya malah ngantuk dan agak rewel berangkat ke sekolah. Saya pun sedikit uring2an. Dalam hati bertanya-tanya, akan bagaimana puasanya hari ini ya?
Sekolah Luqman mensiasati hari pertama puasa di sekolah dengan cukup cerdas, menurut saya. Anak-anak ditanyai siapa yang puasa hari ini. Serentak terdengar anak-anak koor menjawab, "Sayaaaaaa!" Hehehe... Lalu diajari hafalan niat puasa sambil dilagukan. Acara terakhir di sekolah adalah menari mengikuti lagu dan gerakan bu guru.
Biasanya ada waktu istirahat jam 8 pagi, dilanjutkan dengan kelas kedua. Tapi hari ini tidak ada jam istirahat, jam 8.30 anak2 sudah boleh pulang. Jadi amanlah para ibu pengantar dari rengekan rutin anak-anak yang minta dibelikan jajanan. Anak-anak tak punya kesempatan untuk melihat jajanan di luar pagar sekolah.

Namun karena di kelas banyak hafalan dan menyanyi, Luqman keluar kelas langsung minta minum. Saya ingatkan niatnya berpuasa.
"Aku ga mau puasa, aku ga suka!"
"Sebentar saja, kok. Ini sudah hampir jam 10"

Sebelum pulang ke rumah saya mampir ke rumah Bu RT, mumpung ingat waktunya membayar iuran sampah. Bu RT yang ramah menawari Luqman air minum dalam kemasan.
Langsung saya tolak, "Luqman puasa, budhe..."
"Tapi aku mau mimik, bu. Aku ga mau puasa "

Saya menggeleng, cuma sampai jam 10, satu jam lagi, sayang...
Luqman duduk di teras rumah membelakangi saya. Tak lama isak tangisnya terdengar. Olala!
Luqman jarang menangis, di usianya yang mendekati 5 tahun, ia sekarang merasa malu untuk menangis. And it hurt his pride to cry like a baby.
Tapi saat ini, ia terisak-isak di teras rumah bu RT. Saya duduk di sisinya dan merangkul bahunya.
"Aku haus, mau minum, bu"
Duh, dalam hati saya pun ingin menangis!
Anakku sayang, tahan sebentar, ya
"Aku mau minum" tangisnya di pelukan saya.

Sampai di rumah saya ajak bercanda di kamar. Saat tertawa lupa akan hausnya. Namun hampir tiap 5 menit sekali ia kembali minta air putih. Wajahnya mulai cemberut, ia mulai marah pada ibunya. Mau gimana lagi? Saya ingatkan dia untuk tidak berkata yang tidak baik kalau marah.

Saat saya mulai mencuci pakaian, ia mulai lagi lagi dengan jurus lain.
"Bu, kalau aku ga minum, nanti aku mati, lho..."

Ha... mau tertawa mau marah jadi satu... kok, lebay banget sih? Akhirnya saya pilih ketawa, "Ya, nanti jam 10 kita lihat Luqman mati apa nggak."
"Pasti mati!"


Saya coba alihkan dengan game di komputer, kebetulan anak tetangga teman bermainnya juga sudah pulang dari sekolah. Main bersama sedikit mengalihkan perhatiannya. Tapi siklus minta minumnya tak berhenti, cuma jadi 10 menit sekali, hehe... Ayo, anakku, cuma setengah jam lagi...

 Mendekati jam 10, intensitas meningkat. Sang eyang yang baru pulang dari pasar ikut memberi motivasi. Ayo, nanti eyang beri hadiah.

Alhamdulillah, jam 10 datang, malah ia harus diingatkan untuk buka puasa.
Makan jeruk manis dan air putih, semakin nikmat karena penuh perjuangan.
Dan satu lagi, Luqman masih hidup, kan?

Senin, 27 Juni 2011

#5 Fusible Plastic Purse

Cihuy, satu dari daftar keinginanku terkabul! Akhirnya suami tercinta bersedia membelikan mesin jahit buat istrinya yang sebenarnya belum bisa jahit (hehe, kalo dibeliin jadi muncul tag 'tercinta'-nya). Tapi dengan syarat harus produktif, which means less gaming on the compie and FB-ing, I guess....

So, this is my first new project with the sewing : Fusible Plastic Purse....*tada!*

Dibuat dari hasil daur ulang kantong plastik bekas (tas kresek bahasa suroboyoan'e). Tas kresek dilipat, disetrika sedemikian rupa sehingga menjadi lembaran yang siap dijahit/dibentuk.
Cara mem-fuse kantong plastik bisa dilihat video youtube,
klik di sini : http://www.youtube.com/watch?v=PNziDXtm1SA

Agaknya masih ada pertanyaan tentang apakah uap yang dihasilkan akan menambah pencemaran udara atau tidak. Tapi saya sudah punya terlalu banyak kantong plastik, melebihi yang bisa dipakai ulang. Terkadang sampai robek sendiri karena terlalu lama disimpan. Ini yang membuat saya penasaran mencoba fusible plastic bag ini sebagai alternatif pemanfaatan simpanan tas kresek saya.

Tapi sepertinya saya belum bisa melakukannya dengan benar, karena hasilnya lembaran plastik berkerut-kerut dan ada beberapa bagian terutama di sudut yang masih belum menyatu. Jadi model kulit jeruk gitu, deh.

Ada saran supaya bisa mulus?

Yang satu ini saya buat dari kantong plastik lorek ukuran L (adiknya kantong plastik jumbo itu, lho), 2 buah.
Kantong plastik hitam ukuran L 3 buah. Hanya saja yang 2 dilipat memanjang dan disambung untuk bagian sisi dan bawah tas.


Trus dijahit-jahit, berhubung saya paling malas bikin pola dan ukur mengukur, jadi hasilnya agak sekenanya.
Menurut saya sih, hasilnya cukup keren, hehe....



 Rencananya akan saya gunakan untuk menyimpan baju cadangan Luqman kalau bepergian. Lebih keren daripada hanya dimasukkan kantong plastik, kan? Dan saya suka karena tahan air, jadi kalau ada rembesan air dari botol minum misalnya, baju tidak akan basah



Ini cukup untuk 1 kaos, 1 celana pendek, plus singlet CD. Masih ada tempat untuk botol minyak kayu putih kecil dan tas plastik kecil tempat baju kotor.

Kancingnya pakai velcro (alias kretekan, hehe... itu bahasanya penjaga toko di surabaya). Pinggirannya saya gunting dengan gunting khusus yang ada polanya biar lebih manis.

Karena pengennya cepat selesai juga, jadi ga ambil foto-foto pembuatan. Maaf ya jadi bukan tutorial nih, sekedar pamer, kikikik... Bagus nggak?

Senin, 16 Mei 2011

Reality bites, ouch!

Hari ini harus kembali melepas kepergian seorang teman.

Mau tak mau, ingatanku melayang padamu.
So far away, so out of reach, please be alright, honey
Jantung berdegup kencang tak henti.

Setiap melihat perpisahan seperti ini, seolah mengingatkan bahwa aku juga harus selalu siap jika harus mengalaminya.
Tapi apakah kita akan pernah siap menghadapi perpisahan seperti ini?
We never know the answer, I guess, till finaly we faced the reality.

Kenyataan bahwa kita lahir ke dunia seorang diri, dan harus siap menjalani hidup seorang diri pula.
Karena pada akhirnya, semua yang kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan seorang diri.

Ketika itu barulah kita tersadar, bahwa hanya pada kasih sayang-Nya kita berserah diri,
berbekal keyakinan bahwa Ia takkan pernah meninggalkan hamba-Nya yang mencintai-Nya,
maka kita pun harus melanjutkan hidup.

Sungguh rapuhnya manusia, hanya dengan belas kasih-Nya ia datang dan pergi dari dunia yang hanya sementara.
Yang walau pun hanya sementara, betapa kita menggantungkan seluruh cinta dan upaya kita pada kehidupan ini.
Yang betapa pun erat kita berusaha mempertahankan apa yang kita miliki, pada akhirnya kita harus pasrah dan ikhlas jika harus melepaskan.

Pelajaran hari ini, memiliki berarti harus siap melepaskan, walau seakan meluluhlantakkan segenap daya hidup.
Betapapun pahit, semua adalah skenario Allah untuk menjadikan kita lebih mulia.

Boleh jadi kau menyukai sesuatu padahal itu tidak baik untukmu, boleh jadi kau tidak menyukai sesuatu padahal itu baik untukmu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.

Surabaya, 16 Mei 2011
Usai pemakaman Kak Dodik Prasetya
Gudep Surabaya 611 Pangkalan Kampus ITS

Jumat, 15 April 2011

Adikku

Kemarin Luqman (4 tahun 5 bulan) ngobrol dengan Ikhlas (udah TK) yang sedang mengajak adik sepupunya berjalan-jalan.

"To, To, ayo main bola..." ajak Ikhlas pada adiknya.

"Adikmu namanya Pato, ya?" Luqman bertanya dengan nada heran.

"Bukan, namanya Ito." jawab Ikhlas.
"Oh, kalau adikku namanya Pocoyo"  ucap Luqman penuh percaya diri.

Aku ngakak sendiri di dalam rumah.

Rabu, 13 April 2011

Makin tua, makin....

Matahari baru muncul sedikit malas, hawa dingin mendung pagi membuat aku berharap tak meninggalkan jaketku di rumah. Saat itu Mariana dengan heboh memelukku,  "Mbak....! Selamat, ya...!"

"Selamat apa?" Bengong...
"Ini tadi baru buka fesbuk, rupanya mbak ulang tahun ya?"
"O...iya."

Ding, suer aku ga inget, kemarin-kemarin sih inget. Eh, pas hari H lupa! Sekilas melirik suami, hehe... kayaknya dia juga lupa.

Siang ini baru buka FB, agak heran dengan 24 notif di situ. Tapi biarin dulu deh, mau baca-baca status dulu. Agak lama baru nyadar, eh ucapan selamat ultah kali, ya...? Hehehe... baru inget lagi kalo abis ulang tahun.

Ah, tambah umur kok ga sadar-sadar ya. Malah tambah pikun begini.
Anyway, it's always a good thing reading those happy birthday posts on your wall. A reminder that you have these friends that care for you and for you to take care. Thank you everyone...

So, my birthday resolution is to wish happy birthday to anyone I know from now on.

And for those that I missed, I'm trully really sorry. This forgetfullness is annoying indeed.

Senin, 04 April 2011

Hadiah Tak Terduga

Bulan Februari 2011 lalu, saya menerima telpon seorang lelaki yang mengaku petugas Telkom. Setelah mengkonfirmasi nomor telepon dan nama pelanggan, ia lalu menyampaikan pada saya,

"Ibu. Ibu mendapat hadiah dari PT. Telkom, yaitu ..... menit telepon lokal dan ..... telepon interlokal.
Untuk keterangan lebih lanjut, ibu dapat menghubungi 147."

(Saya sudah lupa berapa angka yang ia sebutkan)

"Terima kasih"

Saya tidak menanggapi lebih lanjut. Karena kami jarang menggunakan telepon rumah, selain untuk menerima panggilan dan menelepon nomor-nomor lokal. Jadi tidak terlalu excited lah.
Suami sempat berkomentar, ah jangan-jangan bohong.
Saya pikir, sekalipun bohong kan ga masalah. Kalo nggak dipakai kan ga ngaruh, sih?

Bulan Maret 2011, suami saya lapor, "Tagihan telpon kok banyak ya? Biasanya ga sampai 40 ribu, ni kok sampai Rp 71.500,- ?"
"Iya, saya banyak telepon interlokal kali..."
"Ah, biasanya juga ada telpon interlokal, tapi ga sampe segini tagihannya.." tampiknya

Hmm... benar juga, saya pikir pemakaian saya hampir sama seperti sebelumnya. Akhirnya saya cek rincian tagihan lewat telepon 109. Ternyata memang ada tambahan Rp 65.000,- untuk layanan non jastel.

17 Maret 2011 saya tanyakan ke 147. CS yang menerima menyampaikan bahwa non jastel yang dimaksud adalah fitur tambahan layanan telepon rumah, berupa paket telepon lokal dan interlokal dengan tarif Rp65.000,-/bulan.

Walah.... saya kan tidak pernah meminta layanan tersebut, mengapa bisa mendadak ada dan muncul tagihan?

Spontan saya minta layanan itu dicabut.

"Nggak sayang, bu?" tanya mbak CS.
"Nggak, mbak."

"Kalau boleh tahu, alasannya apa?"
"Tagihan saya jadi besar, mbak. Dan saya tidak pernah meminta atau mendaftar untuk layanan ini."

Lalu saya ceritakan tentang telepon yang saya terima, "Ini sebenarnya kan penipuan, mbak. Tolong teman-teman marketingnya diberitahu, jangan begini dong caranya." ujar saya setengah jengkel, "Kalau sampai keluar di koran, kan nggak baik untuk Telkom sendiri"

"Baik, bu, akan kami sampaikan. Mungkin ibu tertarik dengan paket telpon hp, cuma...."
"Terima kasih, mbak. Tapi saya tidak perlu. Jadi bagaimana saya bisa tahu kalau fitur ini sudah dicabut atau belum?"

"Ibu silakan konfirmasi ke 147 tanggal 1 bulan depan"

Jumat, 1 April 2011, suami saya mengkonfirmasi ulang, ternyata fitur itu belum dicabut. CS menyampaikan bahwa pencabutan masih dalam proses, mungkin perlu beberapa hari.

Senin, 4 April 2011, saya telpon ulang dan memperoleh jawaban yang sama. CS tidak dapat memastikan kapan fitur tersebut dicabut.
"Lha, kalo sampai akhir bulan, masih belum dicabut, jadi saya harus bayar lagi layanan yang tidak saya pesan itu?" protes saya pada si mbak CS.
"Untuk bulan April, yang ditagihkan adalah pemakaian bulan Maret, bu. Kalau ibu merasa keberatan dengan tagihan itu nanti, ibu dapat mengajukan ke Telkom" jawab CS tersebut.

Jadi, saya menyimpulkan mungkin saya harus komplain untuk 2 hal, pencabutan fitur dan tagihan.
Pertanyaannya, komplain saya akan dilayani kapan?

"Masih dalam proses, bu... Mungkin beberapa hari lagi...", begitu saya membayangkan jawaban yang akan saya terima seandainya saya mengajukan komplain kelak....

Sungguh 'hadiah' yang tak terduga...
Makasih, ya

Antara CS dan Tukang Serpis....

Ada hubungan apa, ya?

Lha, ya memang itu pertanyaan saya.

Sebagai konsumen yang awam, saya berharap ketika saya memasukkan pengaduan kepada Customer Service (CS), maka masalah yang saya adukan akan segera terselesaikan. Namun dari pengalaman, ternyata CS di beberapa perusahaan hanya bertugas menerima pengaduan saja. Mereka tidak dapat memberikan kepastian kapankah masalah kita akan diselesaikan. Akhirnya ketika telpon berulang kali, jawaban yang diberikan sama dengan jawaban ketika telpon pertama kali.

"Iya, bu... sedang dalam proses, dalam beberapa hari akan kami selesaikan"

Padahal beberapa hari yang lalu juga begitu jawabannya. Ya, emang script standarnya begitu kali ya?

Sekarang apa gunanya melaporkan pengaduan gangguan dsb, kalo cuma numpuk di CS?
Sebenarnya pasti CS sudah meneruskan kasus kita ke bagian yang berwenang membereskannya (ini dari sudut pandang berprasangka baik, hehe...). Hanya saja sepertinya tidak ada data mengenai perkembangan kasus yang bisa diakses oleh mereka. Atau tidak ada standar prosedur yang memastikan bahwa per kasus akan ditangani dalam waktu X hari, misalnya. Sehingga ketika sebagai konsumen saya bertanya, ini pengaduan sudah dari tgl sekian, trus tgl sekian, dan sekarang telpon lagi... kok belum beres? Kapan beresnya? Nah, lho... cuma bisa bilang tunggu, ya bu....

Hiii... kalo yang ngomong begitu anak saya, udah saya cubit kali....Hehe, maaf, ya sayang...

Jadi CS ma Tukang serpis ada hubungan apa enggak, ya? Hehe... mungkin teman-teman yang sekarang atau dulu pernah berprofesi  sebagai CS atau tukang servis ini bisa menjawab pertanyaan saya. Geregetan banget, nih. Katanya Comitted tu yu... Komit sama tagihannya saja kah?

Masa sih, kalau mau dilayani harus lewat Surat Pembaca atau FB dulu?
Ah, Indonesia bangeeeut.... kapan majunya?

Senin, 28 Maret 2011

Ngobrol ma pak sulap

Dialog Luqman (4 th 4 bulan) dengan Pak Yosef (pesulap)


Pak Yosef (P) : Ayo, sini anak pinter, naik ke panggung sini...

Luqman naik ke panggung lalu diajak berdialog oleh Pak Yosef

P : Namanya siapa?
L : Luqman

P : Luqman kalau sudah besar mau jadi apa?
L : Tentara

P : Kalau mau jadi tentara, harus rajin belajar, ya. Belajar apa?
L : Belajar nembak... nembak maling sama penjahat
Penonton : Grrrr!

P : Sekarang Luqman nyanyi, ya.. Balonku ada 5, coba...
L : Enggak, enggak..

P : Satu-satu aja, deh
L : Nggak usah...

P : Oh, lagunya Pasha, ya. Pernahkah kau merasa...?
L geleng-geleng kepala

P : Yo, wis belum pernah merasa, ya...
    Cerita gajah aja. Ikuti saya, ya
    Gajah....
L : Gajah...

P : Binatang yang amat besar....
L : Iya...

P : Lho, ikuti saya...! Telinganya lebar....
L : Iya betul....(sambil mengangguk-angguk)

P : Waduh! Ikuti kata-kata saya ya... Gajah binatang yang amat besar...
L : Gajah binatang yang amat besar...

P : Telinganya lebar...
L : Telinganya lebar...

P : Matanya kecil...
L : Matanya kecil, nggak kelihatan.
Penonton : Grrrrr...!

P : He....? Matanya kecil, kakinya...?
L : Kakinya bengkak
Penonton : Grrrr...!

P : Wis, anak pinter. Sekarang dapet hadiah dua.
Pak Yosef menyerahkan 2 hadiah kecil

P : Kalau dapat hadiah, ngomong apa?
L : Terima kasih

P : Bahasa Inggrisnya?
L : I love you
Penonton : Grrrr...!

Senin, 21 Maret 2011

No Regret

Regret comes later
when it's too late to change the outcome

It's a fact and experience of others,
us too

We actually have a built-in early warning sistem of regret inside us.
Our conscience, a small voice whispering to remind us

But we usually shut it in the corner,
"Live me alone, I'll do as I like!"

and then we pretend we don't hear this voice of reason.

And finaly the day comes.
The day when we regret what we did,
and we regret that we didn't do what we should do.

Question : How many days of regret that we are still willing to suffer?

Fact :  We don't have much time left in this world.
           Wether we sleep or working, the clock is ticking
           Time and people, When they're gone, they're gone

LIVE FOR TODAY
Like tomorrow is the end of days

LIVE FOR TOMORROW
Like you'll live forever (living forever needs a lot of preparation, you see...)

LIVE WITHOUT REGRET
That's sounds like a beautiful way of living, innit?

Friday, 25 April 2008
-20 days after he passed away-

BELAJAR PERIBAHASA


Semakin pintar seseorang, maka ia akan semakin menyadari betapa sedikit yang ia kuasai dari semua ilmu yang ada di dunia ini, betapa banyak orang yang lebih pintar darinya. Kesadaran ini akan membentuk  sifat rendah hati dan motivasi untuk terus belajar. Kata orang, inilah yang namanya ilmu padi, semakin berisi, semakin merunduk ia.

Bangga akan ilmu dan keterampilan yang dimiliki adalah sifat manusia, yang memang manusiawi. Maksudnya, semua manusia punya kecenderungan yang sama untuk sombong. Hanya saja kalau kita tak berhati-hati mengelola kebanggaan ini, maka kita dapat menjerumuskan diri sendiri dalam jurang kebodohan.

Ketika kita merasa diri pintar, maka kita akan berhenti belajar.
Ketika kita merasa diri lebih baik dari orang lain,
Maka kita tak mau mendengar apa kata orang.
Kita tak lagi mampu menerima kritik karena kita sudah sangat 'baik'.

Akhirnya kita justru terputus dari jalur-jalur pengembangan diri, perbaikan diri dan pengetahuan.
Tanpa kita sadari, kita akan jadi orang bodoh, terkucil, bahkan kita tak tahu bahwa ada orang yang mengetahui kebodohan kita, mungkin menertawai dan mengejek kita.

Tapi dalam kehidupan yang serba tak adil ini, tak sekali dua kita bertemu dengan orang yang ingin tampil pintar, ingin orang lain tahu bahwa ia pintar, tak peduli kalau dia tak sepintar perkiraannya. Padahal kalau kita pakai ilmu peribahasa (lagi), tong kosong nyaring bunyinya. Semakin keras ia berkoar, justru semakin tampak kosongnya.

Tulisan ini hanya sekedar bermaksud mengingatkan.
Setiap kita memiliki kesempatan menjadi tong kosong, termasuk saya dan teman-teman yang saya cintai.
Mari kita saling mengingatkan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
Hidup peribahasa !!!!

PS : Daripada lama nganggur, ni diisi dengan koleksi tulisan lama dari kompie, hehehe

Kamis, 23 Desember 2010

Terima Kasih, Ibu

Maaaak, serasa kerja rodi...! Pegel-pegel, oi.... Seminggu penuh acara menjahit, mana mesin jahit pinjaman, di rumah orang pula. Tapi memang sudah diniatkan mau melancarkan ketrampilan menjahit dengan mesin, jadi komandonya : Siap, kerjakan! Hehehe...

Tanggal 30 Desember 2010 ada acara selametan 1000 hari meninggalnya bapak, ibu beli sajadah untuk suvenir di Surabaya. Rencana awal ucapan di belakang sajadah mau disablon saja. Tapi sajadah yang dibeli ada 2 jenis, satu warna terang dan satunya warna gelap. Kata bapaknya Luqman, nanti ribet proses sablonnya dan jatuhnya jadi mahal. Mending diprint di media tekstil, malah bisa warna-warni ucapannya. Harganya juga lebih murah. Nah, itu yang penting!

Tapi emang jadi lebih ribet di kita karena harus motong ucapan dari lembaran kain itu. Kan ga mungkin to percetakannya ngeprint satu-satu, secara media cetaknya kain meteran.
Lalu ucapan harus dijahit ke sajadah satu per satu. Mikir-mikir tukang jahit mana yang mau menjahit kotak-kotak kecil itu. Dan apa bisa selesai cepat?
Karena ada saudara yang juga bikin selametan untuk bapak, 1 minggu sebelum acara di rumah ibu. Akhirnya diputuskan dijahit sendiri. Padahal ga punya mesin jahit, hehe
Jadi nunut di rumah orang ceritanya....

Total 275 sajadah, 1 minggu menjahit. Lama ya?
Pertama, karena menjahit di rumah orang, jadi saya harus beberes rumah dan masak sebelum meninggalkan rumah. Dan kalo Luqman pas waktunya PAUD, jadi lebih pendek lagi waktunya.
Sore saya pulang, ga enak lama-lama ngerepotin. Lagian gelap kalau malam, kan pakai benang hitam. Jadi waktu per harinya emang singkat.

Kedua, pada dasarnya ini pertama kali saya serius menjahit dengan mesin jahit!
Jadi emang saya tidak berpengalaman menjahit dengan mesin, gubrak! Hehehe, dari SD saya suka menjahit boneka dan bajunya. Tapi pakai tangan. Ga tau kenapa, ga pernah ada keinginan menjahit baju sendiri. Otomatis saya tak pernah belajar menjahit dengan mesin. Jadilah kakak perempuan saya sebagai murid tunggal ibunda.

Hari pertama saya dapet 20 sajadah. Siang udah pulang, stress! Jahitan kok penceng kabeh! Ga bisa lurus...
Dari 20 itu setengahnya saya bongkar dan jahit ulang. Udah kepikiran mau survey penjahit, hehehe..
Tap besoknya saya ke sana dan menjahit lagi. 'N alhamdulillah, i'm getting better.

Hari ketiga, suami menyempatkan melihat jahitan saya. Ia lebih berpengalaman menjahit dengan mesin daripada saya. Jaman sekolah dulu, ia malah pernah produksi setangan leher pramuka untuk dijual.
"Bagus, kok", hiburnya. "Lumayan. Ga usah dibongkar, kan wajar kalau miring-miring. Namanya juga baru belajar".
Mungkin ia kasihan melihat saya kelelahan. Tapi saya juga kasihan sama ibu saya. Apa kata dunia kalau jahitan di suvenirnya amburadul? Trus ditanya siapa yang njahit? Walah, cemar nanti nama baik saya!
Ga bisa, harus dibongkar! Hahaha...

Alhamdulillah, sekarang sudah lancar. Paling nggak, gayanya sudah mirip sama tukang jahitlah...
Acara jahit menjahitnya sudah seminggu yang lalu berakhir. Sebelum ada rencana menjahit, ibunda sudah titip 1 sajadah untuk si ibu yang ketempatan dan 1 untuk ibu mertua.

Berhubung merasa berhutang Budi, Wati, dan Iwan (banyak banget hutangnya, ga cuma Budi, adek kakaknya juga ikut...), jadi pengen bikin hantaran yang lebih istimewa.
Kalau sajadah yang lain kan cuma dimasukkan plastik yang ada lemnya. Yang ini mau dibikin kue tart. Soalnya saya habis browsing cara-cara bikin hantaran pengantin.Kebetulan adik ipar ada yang mau nikah, dan saya dan mbaknya kebagian tugas menata hantaran buat calon istrinya. Jadi pengen sekalian praktek.

Ga sempat foto step-by-stepnya karena pengen cepet dikirim ke si ibu yang baik hati.
Udah dibungkus baru inget kalo sebenernya pengen motret dulu... hehe...




Stepnya pake tulisan aja ya...
1. Sajadah digulung, supaya lebih proporsional tengahnya diisi gumpalan kertas koran. Semat dengan jarum pentul. Tidak pakai lem, biar ga rusak sajadahnya.

2. Bagian atas ditutup dengan kain flanel. Krim putihnya pakai tali kur putih. Dianyam kayak tikar biar tampak manis. Masing-masing ujungnya disemat dengan jarum pentul.

 Tepi kue juga pakai kain flanel sewarna dengan atas. Digunting biar kayak lelehan krim. Trus dikasih mawar pita merah dan putih menutupi jarum pentul pada ujung tali kur.

Kenapa bunga mawar? Karena saya belum tahu caranya bikin stroberi 3 dimensi dan krim kue yang putih-putih itu, hehehe... Desain awalnya strawberry and cream.. gagal bikin stroberi jadi ganti mawar dari pita kain. Mawar pita ini sebenarnya spesialisasi kakak saya, Mbak Evi. Saya cuma pernah lihat dia bikin, belum pernah bikin sendiri. Mudah-mudahan sudah mirip mawar.

3. Hias dengan pita perak, karena punyanya warna itu :) Kebetulan ada pita bunga mawar perak dari suvenir pernikahan yang saya simpan (never throw anything away!) Pas banget sama pitanya.

4. Kemas dengan dasar karton lapis kertas perak (beli di toko kue 900 perak) dan bungkus dengan plastik bening (di toko yang sama 750 perak).
Ikat agak ke belakang supaya bagian atas yang ada tulisan 'Thank You'-nya bisa kelihatan. Ikat plastik dengan isolasi bening. Ikat lagi dengan pita perak.
Tambahkan mawar biar lebih manis.

Harusnya beli kemasan dulu baru bikin kue tartnya. Tadi sempat dibongkar ulang supaya bisa pas dengan kemasannya.
Kalau mau lebih praktis, pakai tempat kue tart dari mika.
Itu lho yang atasnya bening dan dasarnya coklat tua.

Ah, capek... semoga si ibu senang, ya... Terima kasih ibu yang sudah seperti ibuku sendiri.
Maaf saya sudah banyak merepotkan :)
I Luv ya, all Mums!
Selamat Hari Ibu!

Senin, 25 Oktober 2010

Tua = Dewasa?

Satu hal dari sekian banyak yang saya pelajari di kehidupan saya di racana (baca : pramuka), adalah kenyataan bahwa kedewasaan itu tidak berbanding lurus dengan usia. Ketika itu, dalam menghadapi konflik dalam sebuah organisasi saya mampu bersikap lebih dewasa dan menyampaikan perasaan saya tanpa sikap emosional. Dan pada akhirnya mencapai sebuah perdamaian dan kembalinya suasana pertemanan seperti sebelumnya.

Saya sempat merasa heran, kenapa senior saya tidak bisa bersikap dewasa? Mengapa harus seperti kanak-kanak yang berhenti bicara satu sama lain kalau bertengkar? Sementara saya berada dalam gelapnya ketidaktahuan tentang apa sebenarnya salah saya padanya. Dari seorang teman, saya mendapati sebuah kesalahpahaman yang sangat sederhana bagi saya, namun mungkin menyakitkan bagi orang yang tidak berpikir dewasa. Cukup menyakitkan baginya hingga ia berhenti berkomunikasi dengan saya dan beberapa teman lainnya.

Ketika itu, saya merasa tidak bisa hidup dengan permusuhan sepihak ini. Mungkin saya termasuk plegmatis  dominan ya. Maka saya putuskan untuk minta maaf, walaupun saya sebenarnya tidak merasa bersalah. Tapi ya, namanya salah dan benar itu kan relatif. Walau ga sengaja dan ga bermaksud, kalau nginjek kaki orang pastilah minta maaf, kan. Apalagi kalo orangnya sampai loncat-loncat sambil mengaduh-aduh, hehe...

Terus terang, ketika itu saya merasa mencapai level baru dari pendewasaan diri saya. Mencoba mengalahkan ego untuk mencapai tujuan yang lebih besar, kebersamaan dan kerukunan di sanggar. Sehingga kami bersama-sama dapat membina diri dengan nyaman. Bagi saya yang sebenarnya juga sangat individualis, ini sebuah prestasi.

Kehidupan beregu dalam gerakan kepanduan adalah sebuah miniatur kehidupan bermasyarakat. Ada pemimpin dan yang dipimpin. Ada yang masalah organisasi dan masalah pribadi. Ada yang lebih dulu matang dan ada belajar untuk lebih dewasa. Berkumpulnya individu dalam suatu kumpulan pastilah akan menimbulkan konflik. Kalau ga ada konflik, berarti tidak pernah ada interaksi. Dan kalau tidak ingin berkonflik, ya tinggal aja di hutan terpencil yang ga pernah ketemu orang... Pilihan lain yang lebih dekat, masuk kamar jangan keluar kecuali untuk pipis dan makan, hehehe, maaf....

Di gerakan pramuka, sejak usia 7 tahun kita sudah ditempatkan dalam barung, hingga di level terakhirnya, Pandega (21-25 tahun) dalam sebuah kelompok besar bernama racana. Memang tak semua pramuka bergabung sejak siaga. Ada yang baru bergabung ketika usianya sudah 21 tahun. Sehingga waktu adaptasinya dengan kehidupan berkelompok yang intens, seperti pramuka ini,pun menjadi lebih panjang. Tapi sebagai level terakhir pramuka, perlu disadari bahwa inilah kesempatan terakhir untuk berlatih, sebelum akhirnya terjun ke dunia orang dewasa yang sebenarnya. Dan waktu terus berjalan.

Marilah kita mengambil jeda dalam kesibukan kita berkegiatan, mungkin setiap tiga bulan, atau per bulan, per minggu. Agar kita sempat merenung tentang apa yang kita hadapi dan cara kita menghadapinya. Apakah sudah baik, apa sudah yang terbaik? Masihkah ada jalan memperbaiki?

Dengan demikian kita tidak terlena dan menyia-nyiakan waktu yang berharga ini dengan berlama-lama sakit hati, jengkel, atau dengan kesenangan yang sifatnya sementara.

Kalau kita terbiasa lari dan menghindari dari penyelesaian konflik, maka itulah yang akan selalu kita lakukan. Tapi lari itu melelahkan dan suatu saat kita akan kehabisan tenaga, tak mampu lagi untuk lari. Sementara konfliknya terlalu besar untuk kita atasi.

Kalau kita sudah pernah berhasil menyelesaikan satu konflik, pastilah kita akan semakin pintar melakukannya lagi. Karena konflik itu akan selalu ada dalam kehidupan kita.

Belajar menyelesaikan konflik-konflik kecil dalam kehidupan kita di organisasi atau di mana pun.

Jangan pergi menghindarinya.

Sehingga ketika menghadapi konflik besar, kita sudah punya ilmu & pengalaman menghadapinya.


Be prepared.
Create a better world.

Jumat, 03 September 2010

Baju Baru Buat Lebaran

Baju baru buat emak udah, buat si kecil 'tralala dung-dung' juga udah. Bapaknya biar cari sendiri...hehe, maaf, pak...
Lha, yang satu ini 'terpaksa' dibuatkan baju baru, biar ga bikin emak jadi repot. Ini... hape baru emak... (jadi malu).
Bukannya mau sombong, kalo bukan karena Siemens kesayangan akhirnya almarhum, ga bakalan beli hape baru. M65 seri Siemens terakhir kelas outdoor activity lungsuran dari suami tercinta, (ups..!) sayangnya udah ga dijual lagi di toko. Jadi dibelikan hape qwerty yang ukurannya gede2 walo harganya ga gede itu. Berhubung ukuran segitu ga cukup dikantongi, maka dibuatlah baju ini. Kebetulan kok pas sebelum lebaran....

Nih, keren ya?


Many thanks for Lily Nailufal Azhar (semoga ga salah tulis), chebonks atas desain kerennya, but i just have to have the string attached! Kalo ga, ntar teteup bingung megangin hapenya.Emang ga persis punya Ly, secara ga punya stok kancing  dan kalo harus keluar belanja ntar keburu ilang moodnya, hehe... Dan ga mirip telepon juga ya? Walah... jadi apa dong? Anyway, i still like it. Coz it's handmade by me!!!!

Persiapan bahan dan pola tadi malam habis buka puasa, pengerjaan tadi pas sahur sampai sekitar jam 6.
Emang kalo ada niat pasti jadi, ngumpulin tekadnya ini yang susah ya...

Semoga project lainnya cepat menyusul. Amin