Selasa, 21 Mei 2013

Rindu

Apa kabar blogku tersayang?
Debu tebal menyelimutimu, maafkan aku lama tak datang.
Ah, engsel pintu pun sulit dibuka terkunci karat.
Marahkah kau hingga tak sudi membuka?
Maaf, maaf, maaf... Maafkan aku.
Tapi mungkin akan kuulangi lagi, jadi apa artinya maaf?
Kata maaf untuk melegakan hatiku dari himpitan rasa bersalah?
Sama seperti salahku pada mesin jahit dan tumpukan kain di sudut sana.
Hidup berlalu begitu cepat, waktu yang hilang tak bisa diputar kembali.
Memilikimu mengingatkan betapa banyak waktu yang terlewat tanpa sempat merenung.
Manusia bergerak dan terus bergerak, ketika ia lupa mengambil jeda, ketika itulah ia melawatkan saat penting untuk mengambil makna.
Bersabarlah denganku, aku mungkin akan mengulangi kesalahan ini. Dan kau selalu hadir untuk mengingatkanku.
Terima kasih

Kamis, 17 Januari 2013

Dari Skripsi Menjadi Buku, Berbagi Bersama Afin Murtiningsih, Kelas Menulis Ibu-Ibu Doyan Nulis – Jawa Timur



Minggu pagi nota bene adalah hari keluarga bagi kebanyakan ibu, namun kali ini ada yang sedikit berbeda buat saya. Usai menunaikan tugas rumah tangga, minggu pagi ini saya berpamitan pada anak dan suami saya untuk berangkat ke Sidoarjo. Jarak Surabaya – Sidoarjo saya tempuh dalam waktu satu jam, selain jauh dan tidak berani beraksi di jalan raya, saya juga sempat tersesat mencari lokasi yang saya tuju. Ingin tahu apa yang membuat saya bersemangat pagi ini? 
Nah, inilah asyiknya bergabung dengan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis.  Bergabung dengan sebuah grup di jejaring sosial yang kini anggotanya sudah lebih dari 5.500 orang dari seluruh Indonesia dan luar negeri, merupakan kesempatan belajar yang luar biasa. Hari ini, Korwil Jawa Timur untuk pertama kalinya mengadakan Kelas Menulis. Diadakan di rumah mbak Afin Murtiningsih, salah satu anggota senior IIDN. Mbak Afin, sapaan akrabnya, adalah seorang penulis produktif yang sudah menelurkan berbagai buku manajemen, parenting, hingga ilmu kesehatan populer.  Tulisannya pun sudah sering tampil di berbagai media. Tentu saja, saya tak boleh melewatkan kesempatan untuk ‘mencuri’ sedikit ilmu dari beliau dan para anggota IIDN lainnya.
Setiba di sana hanya Mbak Nunu El Fasa yang saya kenal, namun sesi perkenalan membuat kami langsung akrab. Teman-teman yang hanya saya kenal namanya, kini mewujud nyata di hadapan saya. Bak iklan layanan masyarakat yang sempat populer, kini saya bisa lihat, dengar, dan raba langsung orangnya, hehehe…
Sesi pertama diisi mbak Afin dengan berbagi pengalaman berkarir di tulis menulis. Ia sempat mencoba menulis fiksi, namun beberapa kali gagal. Lalu ia menemukan jalur yang disukainya dengan menulis hal-hal yang akrab dengan dirinya, seperti psikologi, kesehatan, marketing. Awalnya ia menulis sebagaimana ia menulis skripsi, membuat proposal yang diajukan untuk diterbitkan. Jika disetujui, barulah ia menulis bukunya. Belakangan ia mengetahui bahwa apa yang dibuatnya itu disebut  outline atau kerangka penulisan. Ia pernah mengajukan 30 outline  dan hanya diterima 10 outline. Wow, berarti satu hari bisa menulis satu outline dong, bisik mbak Diah Kusumastuti di samping saya. Ide yang melimpah diperolehnya dengan banyak membaca. Berhubung kantornya bertempat di atas sebuah toko buku ternama, setiap jam istirahat dimanfaatkannya untuk membaca. Menulis dilakukan mbak Afin di pagi hari, beberapa jam sebelum anak-anak bangun dan ia harus memulai aktivitas sebagai seorang ibu dan istri. Saya bukan orang yang biasa bergadang untuk menulis, ungkapnya. Paling malam saya tidur jam 10 malam. Jadi saya harus konsisten menulis setiap hari. Untuk itu, saya berusaha menjaga kondisi agar tetap stabil. Misalnya ketika senang, saya batasi tidak terlalu berlebihan, ketika sedih pun demikian. Termasuk ketika sakit hati, saya juga berusaha untuk tidak terlalu sakit. Jadi saya tidak perlu menunggu mood untuk menulis.
Semua orang punya kelebihan dan keunikan masing-masing, prinsip Mbak Afin dalam menulis. Tak perlu membandingkan diri dengan orang lain, senior atau yunior, lebih pintar atau lebih terkenal. Yang penting ketika kita menghadapi penolakan dan kritik, maka kita harus berusaha memperbaiki diri dan menjadi lebih baik.
Teknik menulis kerangka penulisan juga sempat dibahas, yang pembahasannya akan dilanjutkan melalui jaringan sosial dan Kelas Menulis berikutnya. Cara membuat kerangka penulisan sempat dibagi oleh mbak Afin dan Mbak Nunu El Fasa yang juga hiper aktif dalam menulis.
Dokumentasi Ibu Tatit Ujiani
Mumpung sedang di rumah mbak Afin, para peserta pun dibolehkan melongok studio mini di rumah mbak Afin. Suami mbak Afin yang hobi fotografi, Pak Marzuqi Yahya, memberikan tips-tips memotret makanan dengan menggunakan kamera saku dan bagaimana mengoptimalkan fitur-fitur yang tersedia di dalamnya. Sekarang, yang punya kamera jadi paham bagaimana menghasilkan foto bagus dengan kamera yang tadinya dikira cuma gini doang.


Dokumentasi Bp. Marzuqi Yahya
Sebagai penutup acara, lontong kupang khas sidoarjo pun ikut meramaikan suasana. Namanya juga acara ibu-ibu, belum lengkap kalau belum makan-makan. Apalagi semua ibu yang hadir membawa makanan kecil untuk teman ngobrol. Dan, masih ada doorprize 4 buah buku  dari Mbak Afin dan Mbak Nunu untuk ibu-ibu yang beruntung. Ah, sudah dapat ilmu, dapat makanan enak, dapat hadiah pula. Saya pulang dengan perasaan ‘kenyang’ jiwa raga. Terima kasih, IIDN!

Kamis, 13 September 2012

puisi cinta #1

batang nyiur gemetar
hembusan angin merayapi setiap jenjang tubuh
nakal menyibak daun-daun panjang
seraya berbisik mesra, aku cinta padamu

Minggu, 13 Mei 2012

Cerita Jaman Dulu

Malam itu agenda kami sebenarnya adalah sarasehan bersama para pembina pramuka di gugus depan kami, terkait dengan pola pembinaan penegak pandega di perguruan tinggi. Undangan jam 7 lebih 15 menit malam itu di kediaman salah seorang kakak pembina yang dulu menjadi pembina pandega saya. Seorang teman, sepantaran adik suami saya, hadir pertama mendahului saya dan suami. Tak lama kemudian, datanglah dua orang pembina super senior di antara kami. Tuan rumah keluar menyambut tamu-tamu istimewa ini. Dan saya mengikuti dengan asyik obrolan mereka. 

Istilah super senior tadi bisa dijelaskan sebagai berikut. Gugus depan gerakan pramuka kami, yang berpangkalan di perguruan tinggi, resmi berdiri tahun 1983. Dan pembina-pembina yang tengah berbincang di hadapan saya adalah para pencetus dan pendiri gugus depan kami. Yang dua orang kini telah bergelar profesor. Yang seorang adalah seorang anggota direksi sebuah kontraktor besar. Nyonya rumah sudah berhenti dari kesibukannya sebagai dosen, namun masih asyik dengan aktivitasnya mengurus TK dan anak bungsunya yang sebentar lagi akan duduk di bangku kuliah. Jadi rata-rata anak beliau-beliau ini sudah dewasa, ada yang sudah menikah dan memiliki anak mereka sendiri.

Dan entah dari mana awalnya, kami lalu mulai bicara tentang perubahan anak-anak muda sekarang ini. Oh iya, saya ingat. Ketika itu si bungsu datang membantu sang ibu membawa sajian. Si bungsu yang sejak kecil sudah akrab dengan kegiatan kami, tentunya sudah mengenal para tamu yang juga teman-teman dekat orang tuanya. Tapi usai meletakkan nampan di atas meja, ia hendak kembali ke 'dunia'nya (yah, saya kan tidak tahu dia tadinya sedang apa, sebelum dipanggil sang ibu). Sang ayah menegur, ayo salaman dulu dong dengan pakdhe, budhe, tante... Tersenyum malu, dia menyalami kami semua lalu langsung masuk ke dalam.
Gitu itu anak sekarang, komentar sang ayah. Si ibu tertawa lalu bercerita, dulu dia pernah bicara dengan ayahnya, Pak, ayo mangan dhisik. Kontan ayah ibunya ketika itu tertawa terbahak-bahak. Saya cuma bilang, Dek, yang bisa mangan itu wedhus, sang ayah melengkapi cerita. Dan si adek cuma bengong, tak mengerti maksud kedua orang tuanya. 
Dalam bahasa jawa, memang ada tataran bahasa kasar, halus, hingga haluuuus sekali. Lha, si adik yang tak mengerti penggunaan bahasa, bicara dengan orang yang harus dihormati dengan menggunakan bahasa yang tingkatannya untuk teman sebaya, atau yang lebih rendah.
Tapi, memang itu salah kita sendiri, sahut kakak pembina saya yang lain. Kita tidak pernah membiasakan atau memberi contoh. Bahasa sehari-hari di rumah adalah bahasa Indonesia. Di luaran si anak berbahasa jawa, tapi bahasa jawa sehari-hari yang ngoko. Jadi harapan kita supaya mereka bisa berbahasa halus, ya tidak mungkin tercapai.

Menantu perempuan saya, lanjutnya, pernah disuruh makan oleh istri saya. Jawabnya, masih kenyang bu, nanti saja. Padahal jaman dulu, mana berani istri saya menolak kalau disuruh ibu saya. Biarpun sudah makan, ya tetap makan lagi. Melawan perintah orang tua yang dihormati? Terpikir pun tidak.
Tapi itu bukan karena dia bermaksud tidak sopan, lho. Hanya sekarang ini di jamannya mereka, mengungkapkan pendapat memang lebih bebas dibanding jaman kita-kita dulu. Menurut mereka, itu sopan-sopan saja.

Misalnya saja ternyata di antara teman-teman anak-anak saya, saling memakai barang milik temannya itu hal biasa. Bahkan tanpa minta izin sebelumnya. Kembalinya juga tidak dalam keadaan bersih dan wangi, habis dipakai ya langsung saja dikembalikan. Masalahnya, suatu hari yang dipakai teman anak saya, adalah sepatu saya. 
Wah, kami semua spontan terbahak. 

Kok, temanmu pakai sepatu bapak, mas? 
Tadi sudah bilang ke saya, pak.
Lha, itu kan sepatu bapak.
Ah, masa gitu aja pakai ngomong bapak.

Kami semakin terbahak-bahak. 
Lha iya, unggah-ungguhnya anak sekarang itu, sudah jauh dari jaman kita dulu, timpal ibu profesor di sebelah saya. Kalau pakai standar jaman dulu, bisa-bisa saya sakit hati setiap hari. Lha wong, mahasiswa asistensi tugas kok tidak bawa bolpoin, atau pensil sekalipun. Mau mencatat tolah-toleh, tahu-tahu mau menyambar pensil di tangan saya. Aduh, sampai kaget saya! Mau apa kamu? Langsung saya tanya begitu. 

Bapak profesor menambahkan, Yah, memang mereka di rumah tidak dibiasakan sopan santun. Di masyarakat juga dibiarkan saja. Tidak ada fungsi kontrol lagi, akhirnya jadi kebiasaan.

Sementara beliau bicara, anak saya yang berumur 5,5 tahun berjalan mondar-mandir menginspeksi setiap isi toples. Waduh, ini dia muncul contohnya, batin saya. Hayooo, nak. Mari duduk sama ibu. Si 5 tahun melengos dan beranjak pergi. Hehehe... 
Biarkan saja, kata kakak pembina saya, namanya juga anak aktif.

Sambil meringis, saya jadi berpikir, apa karena pendidikan sekarang lebih mengerti karakter anak yang aktif dan suka bereksplorasi, akhirnya standar sopan santun juga diturunkan dan lebih permisif. Terkadang terlalu permisif hingga tak lagi ada batasan. Yang penting anaknya cerdas, kreatif, pintar. Tapi akhirnya juga jadi pintar membantah, kreatif mencari cara melingkari aturan.

Saya tidak ingin anak saya seperti itu. Kadang si kecil bertanya, temanku boleh begini, mengapa aku tidak? Terkadang saya kuatir, apa saya dan suami menuntut standar perilaku yang terlalu tinggi dari si kecil kami? Hm, sepertinya harus ada perangkat ukur supaya kita sebagai orang tua bisa menyeimbangkan antara memberi ruang berekspresi dan mengajari sopan santun. Atau bagaimana menjaga kebebasan anak untuk belajar tapi tetap memiliki etika.

Apa ya itu? Ah, sementara hanya ini yang ada di otak saya. Nanti ketika lapar ini sudah hilang, mungkin ilham akan datang bersama nutrisi makan siang saya.

Minggu, 07 Agustus 2011

Envy

Been snooping around a friend's photo album in fesbuk :)
Dan anehnya dibuat terpesona memandangi foto-fotonya, seorang perempuan bersama dua anak balita. Ia tentu saja bukan model, demikian pula anaknya. Agaknya si tukang foto yang juga suaminya memang pintar mengambil gambar sedemikian sehingga fotonya 'bercerita'.
Cantik, bukan kecantikan ala Luna Maya atau Sandra Dewi yang memukau. Tapi, you can feel the love and joy in their picture, perasaan yang tersampaikan itu membuat fotonya indah.

Hm, kapan ya saya bisa fotogenic? Walaupun suami tercinta juga hobi fotografi, tapi mungkin saya objek foto kesekian ribu dari semua objek yang ingin dipotretnya, hehe.....

Jumat, 05 Agustus 2011

Aku Tidak Suka Puasa!

Hari ini hari ketiga Luqman berpuasa. Lengkap dengan bangun sahur dan shalat Shubuh di masjid bersama sang bapak. Cuma sampai jam 10 pagi, sih... Namanya juga belajar. Tapi dia benar-benar tidak makan dan minum sampai jam 10 itu. Hebat, deh.
Buka puasa jam 10 disambutnya dengan gembira, tak lupa berdoa dulu mengikuti bacaan ibu, walau masih salah-salah. Menunya sirup terong belanda dari eyang, jajan kecil dan permen... hehe.. Pokoknya yang dia suka.

Tapi hari ini hari pertama puasa di sekolah, setelah libur awal puasa. Tadi pagi karena bangun sahur terlalu awal, jadinya malah ngantuk dan agak rewel berangkat ke sekolah. Saya pun sedikit uring2an. Dalam hati bertanya-tanya, akan bagaimana puasanya hari ini ya?
Sekolah Luqman mensiasati hari pertama puasa di sekolah dengan cukup cerdas, menurut saya. Anak-anak ditanyai siapa yang puasa hari ini. Serentak terdengar anak-anak koor menjawab, "Sayaaaaaa!" Hehehe... Lalu diajari hafalan niat puasa sambil dilagukan. Acara terakhir di sekolah adalah menari mengikuti lagu dan gerakan bu guru.
Biasanya ada waktu istirahat jam 8 pagi, dilanjutkan dengan kelas kedua. Tapi hari ini tidak ada jam istirahat, jam 8.30 anak2 sudah boleh pulang. Jadi amanlah para ibu pengantar dari rengekan rutin anak-anak yang minta dibelikan jajanan. Anak-anak tak punya kesempatan untuk melihat jajanan di luar pagar sekolah.

Namun karena di kelas banyak hafalan dan menyanyi, Luqman keluar kelas langsung minta minum. Saya ingatkan niatnya berpuasa.
"Aku ga mau puasa, aku ga suka!"
"Sebentar saja, kok. Ini sudah hampir jam 10"

Sebelum pulang ke rumah saya mampir ke rumah Bu RT, mumpung ingat waktunya membayar iuran sampah. Bu RT yang ramah menawari Luqman air minum dalam kemasan.
Langsung saya tolak, "Luqman puasa, budhe..."
"Tapi aku mau mimik, bu. Aku ga mau puasa "

Saya menggeleng, cuma sampai jam 10, satu jam lagi, sayang...
Luqman duduk di teras rumah membelakangi saya. Tak lama isak tangisnya terdengar. Olala!
Luqman jarang menangis, di usianya yang mendekati 5 tahun, ia sekarang merasa malu untuk menangis. And it hurt his pride to cry like a baby.
Tapi saat ini, ia terisak-isak di teras rumah bu RT. Saya duduk di sisinya dan merangkul bahunya.
"Aku haus, mau minum, bu"
Duh, dalam hati saya pun ingin menangis!
Anakku sayang, tahan sebentar, ya
"Aku mau minum" tangisnya di pelukan saya.

Sampai di rumah saya ajak bercanda di kamar. Saat tertawa lupa akan hausnya. Namun hampir tiap 5 menit sekali ia kembali minta air putih. Wajahnya mulai cemberut, ia mulai marah pada ibunya. Mau gimana lagi? Saya ingatkan dia untuk tidak berkata yang tidak baik kalau marah.

Saat saya mulai mencuci pakaian, ia mulai lagi lagi dengan jurus lain.
"Bu, kalau aku ga minum, nanti aku mati, lho..."

Ha... mau tertawa mau marah jadi satu... kok, lebay banget sih? Akhirnya saya pilih ketawa, "Ya, nanti jam 10 kita lihat Luqman mati apa nggak."
"Pasti mati!"


Saya coba alihkan dengan game di komputer, kebetulan anak tetangga teman bermainnya juga sudah pulang dari sekolah. Main bersama sedikit mengalihkan perhatiannya. Tapi siklus minta minumnya tak berhenti, cuma jadi 10 menit sekali, hehe... Ayo, anakku, cuma setengah jam lagi...

 Mendekati jam 10, intensitas meningkat. Sang eyang yang baru pulang dari pasar ikut memberi motivasi. Ayo, nanti eyang beri hadiah.

Alhamdulillah, jam 10 datang, malah ia harus diingatkan untuk buka puasa.
Makan jeruk manis dan air putih, semakin nikmat karena penuh perjuangan.
Dan satu lagi, Luqman masih hidup, kan?

Senin, 27 Juni 2011

#5 Fusible Plastic Purse

Cihuy, satu dari daftar keinginanku terkabul! Akhirnya suami tercinta bersedia membelikan mesin jahit buat istrinya yang sebenarnya belum bisa jahit (hehe, kalo dibeliin jadi muncul tag 'tercinta'-nya). Tapi dengan syarat harus produktif, which means less gaming on the compie and FB-ing, I guess....

So, this is my first new project with the sewing : Fusible Plastic Purse....*tada!*

Dibuat dari hasil daur ulang kantong plastik bekas (tas kresek bahasa suroboyoan'e). Tas kresek dilipat, disetrika sedemikian rupa sehingga menjadi lembaran yang siap dijahit/dibentuk.
Cara mem-fuse kantong plastik bisa dilihat video youtube,
klik di sini : http://www.youtube.com/watch?v=PNziDXtm1SA

Agaknya masih ada pertanyaan tentang apakah uap yang dihasilkan akan menambah pencemaran udara atau tidak. Tapi saya sudah punya terlalu banyak kantong plastik, melebihi yang bisa dipakai ulang. Terkadang sampai robek sendiri karena terlalu lama disimpan. Ini yang membuat saya penasaran mencoba fusible plastic bag ini sebagai alternatif pemanfaatan simpanan tas kresek saya.

Tapi sepertinya saya belum bisa melakukannya dengan benar, karena hasilnya lembaran plastik berkerut-kerut dan ada beberapa bagian terutama di sudut yang masih belum menyatu. Jadi model kulit jeruk gitu, deh.

Ada saran supaya bisa mulus?

Yang satu ini saya buat dari kantong plastik lorek ukuran L (adiknya kantong plastik jumbo itu, lho), 2 buah.
Kantong plastik hitam ukuran L 3 buah. Hanya saja yang 2 dilipat memanjang dan disambung untuk bagian sisi dan bawah tas.


Trus dijahit-jahit, berhubung saya paling malas bikin pola dan ukur mengukur, jadi hasilnya agak sekenanya.
Menurut saya sih, hasilnya cukup keren, hehe....



 Rencananya akan saya gunakan untuk menyimpan baju cadangan Luqman kalau bepergian. Lebih keren daripada hanya dimasukkan kantong plastik, kan? Dan saya suka karena tahan air, jadi kalau ada rembesan air dari botol minum misalnya, baju tidak akan basah



Ini cukup untuk 1 kaos, 1 celana pendek, plus singlet CD. Masih ada tempat untuk botol minyak kayu putih kecil dan tas plastik kecil tempat baju kotor.

Kancingnya pakai velcro (alias kretekan, hehe... itu bahasanya penjaga toko di surabaya). Pinggirannya saya gunting dengan gunting khusus yang ada polanya biar lebih manis.

Karena pengennya cepat selesai juga, jadi ga ambil foto-foto pembuatan. Maaf ya jadi bukan tutorial nih, sekedar pamer, kikikik... Bagus nggak?