Senin, 28 Maret 2011

Ngobrol ma pak sulap

Dialog Luqman (4 th 4 bulan) dengan Pak Yosef (pesulap)


Pak Yosef (P) : Ayo, sini anak pinter, naik ke panggung sini...

Luqman naik ke panggung lalu diajak berdialog oleh Pak Yosef

P : Namanya siapa?
L : Luqman

P : Luqman kalau sudah besar mau jadi apa?
L : Tentara

P : Kalau mau jadi tentara, harus rajin belajar, ya. Belajar apa?
L : Belajar nembak... nembak maling sama penjahat
Penonton : Grrrr!

P : Sekarang Luqman nyanyi, ya.. Balonku ada 5, coba...
L : Enggak, enggak..

P : Satu-satu aja, deh
L : Nggak usah...

P : Oh, lagunya Pasha, ya. Pernahkah kau merasa...?
L geleng-geleng kepala

P : Yo, wis belum pernah merasa, ya...
    Cerita gajah aja. Ikuti saya, ya
    Gajah....
L : Gajah...

P : Binatang yang amat besar....
L : Iya...

P : Lho, ikuti saya...! Telinganya lebar....
L : Iya betul....(sambil mengangguk-angguk)

P : Waduh! Ikuti kata-kata saya ya... Gajah binatang yang amat besar...
L : Gajah binatang yang amat besar...

P : Telinganya lebar...
L : Telinganya lebar...

P : Matanya kecil...
L : Matanya kecil, nggak kelihatan.
Penonton : Grrrrr...!

P : He....? Matanya kecil, kakinya...?
L : Kakinya bengkak
Penonton : Grrrr...!

P : Wis, anak pinter. Sekarang dapet hadiah dua.
Pak Yosef menyerahkan 2 hadiah kecil

P : Kalau dapat hadiah, ngomong apa?
L : Terima kasih

P : Bahasa Inggrisnya?
L : I love you
Penonton : Grrrr...!

Senin, 21 Maret 2011

No Regret

Regret comes later
when it's too late to change the outcome

It's a fact and experience of others,
us too

We actually have a built-in early warning sistem of regret inside us.
Our conscience, a small voice whispering to remind us

But we usually shut it in the corner,
"Live me alone, I'll do as I like!"

and then we pretend we don't hear this voice of reason.

And finaly the day comes.
The day when we regret what we did,
and we regret that we didn't do what we should do.

Question : How many days of regret that we are still willing to suffer?

Fact :  We don't have much time left in this world.
           Wether we sleep or working, the clock is ticking
           Time and people, When they're gone, they're gone

LIVE FOR TODAY
Like tomorrow is the end of days

LIVE FOR TOMORROW
Like you'll live forever (living forever needs a lot of preparation, you see...)

LIVE WITHOUT REGRET
That's sounds like a beautiful way of living, innit?

Friday, 25 April 2008
-20 days after he passed away-

BELAJAR PERIBAHASA


Semakin pintar seseorang, maka ia akan semakin menyadari betapa sedikit yang ia kuasai dari semua ilmu yang ada di dunia ini, betapa banyak orang yang lebih pintar darinya. Kesadaran ini akan membentuk  sifat rendah hati dan motivasi untuk terus belajar. Kata orang, inilah yang namanya ilmu padi, semakin berisi, semakin merunduk ia.

Bangga akan ilmu dan keterampilan yang dimiliki adalah sifat manusia, yang memang manusiawi. Maksudnya, semua manusia punya kecenderungan yang sama untuk sombong. Hanya saja kalau kita tak berhati-hati mengelola kebanggaan ini, maka kita dapat menjerumuskan diri sendiri dalam jurang kebodohan.

Ketika kita merasa diri pintar, maka kita akan berhenti belajar.
Ketika kita merasa diri lebih baik dari orang lain,
Maka kita tak mau mendengar apa kata orang.
Kita tak lagi mampu menerima kritik karena kita sudah sangat 'baik'.

Akhirnya kita justru terputus dari jalur-jalur pengembangan diri, perbaikan diri dan pengetahuan.
Tanpa kita sadari, kita akan jadi orang bodoh, terkucil, bahkan kita tak tahu bahwa ada orang yang mengetahui kebodohan kita, mungkin menertawai dan mengejek kita.

Tapi dalam kehidupan yang serba tak adil ini, tak sekali dua kita bertemu dengan orang yang ingin tampil pintar, ingin orang lain tahu bahwa ia pintar, tak peduli kalau dia tak sepintar perkiraannya. Padahal kalau kita pakai ilmu peribahasa (lagi), tong kosong nyaring bunyinya. Semakin keras ia berkoar, justru semakin tampak kosongnya.

Tulisan ini hanya sekedar bermaksud mengingatkan.
Setiap kita memiliki kesempatan menjadi tong kosong, termasuk saya dan teman-teman yang saya cintai.
Mari kita saling mengingatkan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
Hidup peribahasa !!!!

PS : Daripada lama nganggur, ni diisi dengan koleksi tulisan lama dari kompie, hehehe