Kamis, 17 Januari 2013

Dari Skripsi Menjadi Buku, Berbagi Bersama Afin Murtiningsih, Kelas Menulis Ibu-Ibu Doyan Nulis – Jawa Timur



Minggu pagi nota bene adalah hari keluarga bagi kebanyakan ibu, namun kali ini ada yang sedikit berbeda buat saya. Usai menunaikan tugas rumah tangga, minggu pagi ini saya berpamitan pada anak dan suami saya untuk berangkat ke Sidoarjo. Jarak Surabaya – Sidoarjo saya tempuh dalam waktu satu jam, selain jauh dan tidak berani beraksi di jalan raya, saya juga sempat tersesat mencari lokasi yang saya tuju. Ingin tahu apa yang membuat saya bersemangat pagi ini? 
Nah, inilah asyiknya bergabung dengan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis.  Bergabung dengan sebuah grup di jejaring sosial yang kini anggotanya sudah lebih dari 5.500 orang dari seluruh Indonesia dan luar negeri, merupakan kesempatan belajar yang luar biasa. Hari ini, Korwil Jawa Timur untuk pertama kalinya mengadakan Kelas Menulis. Diadakan di rumah mbak Afin Murtiningsih, salah satu anggota senior IIDN. Mbak Afin, sapaan akrabnya, adalah seorang penulis produktif yang sudah menelurkan berbagai buku manajemen, parenting, hingga ilmu kesehatan populer.  Tulisannya pun sudah sering tampil di berbagai media. Tentu saja, saya tak boleh melewatkan kesempatan untuk ‘mencuri’ sedikit ilmu dari beliau dan para anggota IIDN lainnya.
Setiba di sana hanya Mbak Nunu El Fasa yang saya kenal, namun sesi perkenalan membuat kami langsung akrab. Teman-teman yang hanya saya kenal namanya, kini mewujud nyata di hadapan saya. Bak iklan layanan masyarakat yang sempat populer, kini saya bisa lihat, dengar, dan raba langsung orangnya, hehehe…
Sesi pertama diisi mbak Afin dengan berbagi pengalaman berkarir di tulis menulis. Ia sempat mencoba menulis fiksi, namun beberapa kali gagal. Lalu ia menemukan jalur yang disukainya dengan menulis hal-hal yang akrab dengan dirinya, seperti psikologi, kesehatan, marketing. Awalnya ia menulis sebagaimana ia menulis skripsi, membuat proposal yang diajukan untuk diterbitkan. Jika disetujui, barulah ia menulis bukunya. Belakangan ia mengetahui bahwa apa yang dibuatnya itu disebut  outline atau kerangka penulisan. Ia pernah mengajukan 30 outline  dan hanya diterima 10 outline. Wow, berarti satu hari bisa menulis satu outline dong, bisik mbak Diah Kusumastuti di samping saya. Ide yang melimpah diperolehnya dengan banyak membaca. Berhubung kantornya bertempat di atas sebuah toko buku ternama, setiap jam istirahat dimanfaatkannya untuk membaca. Menulis dilakukan mbak Afin di pagi hari, beberapa jam sebelum anak-anak bangun dan ia harus memulai aktivitas sebagai seorang ibu dan istri. Saya bukan orang yang biasa bergadang untuk menulis, ungkapnya. Paling malam saya tidur jam 10 malam. Jadi saya harus konsisten menulis setiap hari. Untuk itu, saya berusaha menjaga kondisi agar tetap stabil. Misalnya ketika senang, saya batasi tidak terlalu berlebihan, ketika sedih pun demikian. Termasuk ketika sakit hati, saya juga berusaha untuk tidak terlalu sakit. Jadi saya tidak perlu menunggu mood untuk menulis.
Semua orang punya kelebihan dan keunikan masing-masing, prinsip Mbak Afin dalam menulis. Tak perlu membandingkan diri dengan orang lain, senior atau yunior, lebih pintar atau lebih terkenal. Yang penting ketika kita menghadapi penolakan dan kritik, maka kita harus berusaha memperbaiki diri dan menjadi lebih baik.
Teknik menulis kerangka penulisan juga sempat dibahas, yang pembahasannya akan dilanjutkan melalui jaringan sosial dan Kelas Menulis berikutnya. Cara membuat kerangka penulisan sempat dibagi oleh mbak Afin dan Mbak Nunu El Fasa yang juga hiper aktif dalam menulis.
Dokumentasi Ibu Tatit Ujiani
Mumpung sedang di rumah mbak Afin, para peserta pun dibolehkan melongok studio mini di rumah mbak Afin. Suami mbak Afin yang hobi fotografi, Pak Marzuqi Yahya, memberikan tips-tips memotret makanan dengan menggunakan kamera saku dan bagaimana mengoptimalkan fitur-fitur yang tersedia di dalamnya. Sekarang, yang punya kamera jadi paham bagaimana menghasilkan foto bagus dengan kamera yang tadinya dikira cuma gini doang.


Dokumentasi Bp. Marzuqi Yahya
Sebagai penutup acara, lontong kupang khas sidoarjo pun ikut meramaikan suasana. Namanya juga acara ibu-ibu, belum lengkap kalau belum makan-makan. Apalagi semua ibu yang hadir membawa makanan kecil untuk teman ngobrol. Dan, masih ada doorprize 4 buah buku  dari Mbak Afin dan Mbak Nunu untuk ibu-ibu yang beruntung. Ah, sudah dapat ilmu, dapat makanan enak, dapat hadiah pula. Saya pulang dengan perasaan ‘kenyang’ jiwa raga. Terima kasih, IIDN!