Senin, 16 Mei 2011

Reality bites, ouch!

Hari ini harus kembali melepas kepergian seorang teman.

Mau tak mau, ingatanku melayang padamu.
So far away, so out of reach, please be alright, honey
Jantung berdegup kencang tak henti.

Setiap melihat perpisahan seperti ini, seolah mengingatkan bahwa aku juga harus selalu siap jika harus mengalaminya.
Tapi apakah kita akan pernah siap menghadapi perpisahan seperti ini?
We never know the answer, I guess, till finaly we faced the reality.

Kenyataan bahwa kita lahir ke dunia seorang diri, dan harus siap menjalani hidup seorang diri pula.
Karena pada akhirnya, semua yang kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan seorang diri.

Ketika itu barulah kita tersadar, bahwa hanya pada kasih sayang-Nya kita berserah diri,
berbekal keyakinan bahwa Ia takkan pernah meninggalkan hamba-Nya yang mencintai-Nya,
maka kita pun harus melanjutkan hidup.

Sungguh rapuhnya manusia, hanya dengan belas kasih-Nya ia datang dan pergi dari dunia yang hanya sementara.
Yang walau pun hanya sementara, betapa kita menggantungkan seluruh cinta dan upaya kita pada kehidupan ini.
Yang betapa pun erat kita berusaha mempertahankan apa yang kita miliki, pada akhirnya kita harus pasrah dan ikhlas jika harus melepaskan.

Pelajaran hari ini, memiliki berarti harus siap melepaskan, walau seakan meluluhlantakkan segenap daya hidup.
Betapapun pahit, semua adalah skenario Allah untuk menjadikan kita lebih mulia.

Boleh jadi kau menyukai sesuatu padahal itu tidak baik untukmu, boleh jadi kau tidak menyukai sesuatu padahal itu baik untukmu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.

Surabaya, 16 Mei 2011
Usai pemakaman Kak Dodik Prasetya
Gudep Surabaya 611 Pangkalan Kampus ITS